Kamis, 19 Maret 2009

Mazmur 23

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku dijalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.

Recommendation of The Kaizen Power Book’s


Tahukah anda bahwa kekuatan ekonomi Jepang saat ini bersumber pada rahasia kekuatan Kaizen (The Kaizen Power)? Ya! Kaizen merupakan satu-satunya konsep strategi yang paling penting dalam memahami rahasia manajemen orang-orang Jepang – kunci bagi keberhasilan kompetitif Jepang. Kaizen berarti “perbaikan”. Dalam buku ini, Kaizen diperluas sebagai “Perbaikan terus-menerus”, termasuk perbaikan diri setiap orang – dari manajemen paling atas, seperti manager, hingga manajemen paling bawah, seperti pekerja. Tak heran bila di Jepang, saat ini beberapa system telah dikembangkan untuk membuat kekuatan manajemen dan pekerja yang sadar akan potensi strategis Kaizen.
Jangan heran bila di Jepang, Kaizen menjadi urusan setiap orang. Memahami Kaizen sangat penting untuk memahami perbedaan-perbedaan antara pendekatan Jepang dan Barat terhadap manajemen. Jika ditanyakan apa gerangan perbedaan paling penting antara konsep-konsep manajemen Jepang dan Barat, maka sudah pasti jawabannya adalah : Kaizen Jepang dan cara berpikirnya yang “berorientasi pada proses” (perbaikan terus-menerus) disbanding inovasi barat dan pemikirannya yang “berorientasi hasil”.
Mempelajari falsafah dan seni berbisnis orang Jepang melalui The Kaizen Power, yang telah terbukti mampu menghantar mereka ke puncak kejayaan di masa kini (usai keruntuhannya akibat Perang Dunia II), secara otomatis mengenal cara pandang mereka dan praktiknya tentang rahasia-rahasia menggapai kesuksesan dan kebahagiaan sejati melalui kekuatan bisnis.
Siapapun Anda, pebisnis atau bukan, sangat penting untuk turut mempelajari dan mengambil falsafah hidup super dari konsep strategis The Kaizen Power ini.

Sabtu, 14 Maret 2009

“Ketika Semua Hilang”

Kejadian-kejadian dalam hidup kadang membuat aku merasa diabaikan oleh orang lain dan Tuhan. Biasanya, saat aku dikecewakan orang lain, aku selalu mengadu kapada Tuhan. Tetapi selama beberapa tahun aku patah hati dan pikiranku kusut, aku merasa Allah pun telah meninggalkanku.

Lalu aku ingat saat Yesus dicobai dan peristiwa yang Ia hadapi demi kepentingan kita. Seperti aku, Yesus pun merasa ditinggalkan oleh orang-orang disekitarNya dan bahkan oleh Allah, Sang Bapa. Hal itu membuat aku menyadari, bahwa Yesus Kristus pun bersama denganku saat aku mengalami kesukaran demi kesukaran. Bahkan hal yang paling aku ingat adalah kenyataan, bahwa Yesus memilih untuk menyamakan diri-Nya dengan kita dalam rasa sakit dan keterhilangan sebagai manusia, walaupun sebenarnya Dia bisa saja tetap tinggal dalam kebahagiaan dan sukacita surgawi.

Kesukaran-kesukaran yang kualami telah menolong aku untuk menyadari kebenaran pernyataan lain, kali ini yang tertulis dalam Efesus 4:10 : “Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi daripada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.” Aku memang belum sepenuhnya keluar dari berbagai kesulitan, tetapi aku berpegang teguh pada janji ini : “Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi” (Mazmur 46:6)

Sahabat Sejati


Persahabatan tidak pernah bergantung pada penampilan, tetapi pada kasih yang dibagikan tanpa pamri.

Setitik kasih membuat kita sayang,
Seucap janji membuat kita percaya,
Sekecil kata membuat kamu kecewa,
Tetapi sebuah persahabatan selamanya akan lebih bermakna.

Be friendly to everyone.


Jumat, 13 Maret 2009

Hati tak Berjudul

Sesak nafasku melihat kau jalan dengannya,

Hancur hatiku mendengar kau berkata,”Aku mencintainya”.

Kurelakan kau pergi dengan senyuman,

semoga engkau bahagia bersamanya.

Kau kan slalu dihatiku,,Sayangku.

Sekarang aku sendiri, tapi aku tak mau berhenti sampai disini.

Hidupku masih berarti, kan kugunakan slalu untuk melayani.

Selamat jalan kekasihku,,Selamat jalan pujaan hatiku…

“Aku kan slalu mencintaimu”.

Kata-kata terakhirmu yang slalu terngiang di telingaku.

Lemas tubuhku dan menjerit hatiku.

Saat kau hembuskan nafas terakhirmu dihadapanku.

Ku tahu pasti akan terjadi, tapi tetap tak bisa kutahan rasa pedih ini.

Walaupun kita tak kan bias nersama lagi,

Hatiku dan hatimi, tetap Bersatu…

Aku Sayang Kamu…

Kini aku menemukan tambatan baru,

Mungkin tak sesempurna dirimu,

Tapi tak ada yang sempurna di dunia ini,

Dia slalu mengisi hari-hariku dengan tawa,

Dia ganti sedihku dengan suka,

Dan satu yang pasti,

Dia isi hatiku dengan cinta,

Aku berdoa…

Semoga kau tersenyum lega disana,

Karna, aku tak kan melupakanmu,

Pada detik ini sampai selamanya.***

“Menghadapi Goliat”


Ingatkah kalian pada pertarungan yang terjadi antara Daud dengan sang raksasa-Goliat? Kita pasti akan teringat pada keberanian dan kemampuan yang dimiliki Daud. Dia mengarahkan batu dengan ketepatan yang mematikan. Daud kemudian mempersembahkan kemenangan itu bagi Allah. Daud berkata kepada Saul, bahwa Allahlah yang telah melepaskan dia dari cakar singa dan beruang, dan Allah jugalah yang akan melepaskan dia dari tangan Goliat (1 Samuel 17:27).
Dalam 2 Tawarikh 20:15, Tuhan (melalui Yahaziel) berbicara kepada penduduk Yehuda dan Yerusalem dan kepada Yosafat: “bukan kamu yang akan berperang, melainkan Allah”. Kebenaran serupalah yang menopang Daud ketika bangsa Israel menghadapi ancaman Goliat dan bangsa Filistin.

Lalu Goliat seperti apa yang kamu hadapi? Mungkin kamu menghadapi kematian seseorang yang kamu kasihi, dosa pribadi, masalah pekerjaan maupun pendidikan, masalah keuangan, luka yang dialami pada masa kanak-kanak, atau beban lain yang tampak bagaikan raksasa di hadapan kamu. Seperti juga umat Allah dalam kisah-kisah Alkitab, kita bisa saja menjadi takut dan cemas akan masalah yang beragam. Namun, yang pasti bukan kita yang akan berperang, melainkan Allah.

Janganlah kamu takut dan terkejut karena lascar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.

“Tuhanlah Perlindunganku”

Pernah terjadi badai besar di pelabuhan Kandala - pesisir barat India. Ribuan orang meninggal. Banyak yang kehilangan orang yang dikasihinya, dan selebihnya kehilangan tempat tinggal mereka.

Sebuah keluarga Kristen yang sangat miskin bekerja sebagai buruh di pelabuhan tersebut. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil, tetapi berkat anugerah Tuhan, seluruh anggota keluarga mereka selamat. Walaupun mereka harus kehilangan segalanya, Tuhan menunjukan kepada mereka, bahwa napas hidup mereka jauh lebih berharga dibandingkan seluruh harta milik mereka. Mereka melewati masa-masa sulit, namun Allah beserta dengan mereka, dan tidak pernah meninggalkan mereka.

Ketika kita melalui masa-masa sulit, situasi dan masalah yang datang dapat saja beraneka ragam. Budaya dan gaya hidup kita berbeda-beda; kita tinggal di belahan dunia yang berbeda. Walau demikian, kita memiliki Allah yang sama, Allah atas segala suku bangsa. Alkitab mengingatkan kita, bahwa Allah adalah perlindungan dan sumber kekuatan kita, bahwa apa pun masalah yang datang dalam kehidupan kita, Allah beserta dengan kita.

Kamis, 05 Maret 2009

“Hidup dari Pusat”

       Angin Puyuh. Selain keganasannya, angin puyuh selalu mempesona bagiku. Pada pusat putarannya terdapat sebuah ruang hampa yang hening dan tenang. Keberadaan pusat inilah yang membedakan angin puyuh dengan angin lain yang bertiup secara acak. Pusat ini sekaligus membantu meningkatkan dan mengatur kekuatan angin.
          A Tastement of Devotion-Thomas Kelly, mengatakan bahwa “jauh di dalam diri kita terdapat sebuah bait kudus yang menakjubkan bagi jiwa, sebuah pusat Ilahi, sebuah suara yang berbicara”. Pusat ini memanggil kita kembali padanya saat kita menemukan kembali keberadaan kita dalam Allah. Ketika kita memberi diri pada “panggilan-panggilan tersebut” dan bertekad untuk menyerahkan diri kita pada “Terang yang ada di dalam”, kehidupan kita yang sesungguhnya baru dimulai.
        Pusat Ilahi merupakan rahasia kehidupan kudus Yesus dan kekuatan yang mengubah. Temukan rahasia ini dalam dirimu. Sediakan waktu untuk membaca Alkitab maupun buku-buku rohani. Berhentilah beberapa saat, beri tempat bagi Allah dalam keheningan di hatimu; dengarkan undangan yang berasal dari dalam; percayakan hidupmu dalam pimpinan Allah; biarkan saat bersama Allah membawa damai bagi jiwamu dan mempertajam kehidupanmu di dunia.