Jumat, 02 April 2010
Berkaca pada Kamis Putih
Kamis, 30 April 2009
“Semua lebih baik dengan doa”
Kita mengenal pepatah, “Keluarga yang berdoa bersama, tidak akan tercerai berai.” Kalimat itu hampir menjadi sesuatu yang klise dalam lingkungan Kristen, dan walaupun didalamnya terkandung semua unsur kebenaran, namun tidak selalu berhasil dalam kehidupan nyata.
Jadi abagaimana kita bisa berkata semua lebih baik dengan doa? Karena kenyataannya memang begitu!
Yesus percaya pada kuasa doa. Apakah kamu pernah menyadari, bahwa dengan semua penekananNya tentang “pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil” dalam Matius 9, satu-satunya perintah yang diberikan Kristus di pasal itu adalah, “Oleh karena itu berdoalah.”
Apa artinya berdoa?
Kira-kira sehari yang lalu, saya duduk dalam sebuah jamuan makan siang, dimana pembicaraan beralih pada topik doa : tentang bagaimana kita berdoa – bagaimana kita cenderung untuk minta-minta-minta melulu, bahwa jarang ada syukur dalam doa kita, bagaimana kita lalai mengatakan pada Tuhan bahwa kita mengasihinya, dan bagaimana tidak ada roh penyembahan.
Tentu saja, ini menggeneralisasi; mungkin tidak berlaku bagi semua dari kamu. Tetapi apa yang dikatakan orang-orang ini adalah, jika semua menjadi lebih baik dengsn doa, kita harus yakin kita sungguh-sungguh berdoa, bukan sekedar menyebutkan keinginan kita.
Yesus memberi kita unsur-unsur doa yang benar dan berkenan pada Tuhan. Semuanya itu tercakup dalam beberapa puluh kata yang singkat : kebapaan Allah (bagi orang percaya); penghormatan, ketundukkan pada kehendak Tuhan; penyediaan kebutuhan kita sehari-hari; kepentingan luar biasa dalam mengampuni; sumber-sumber untuk menangkal pencobaan; dan akhirnya pengakuan bahwa Tuhan adalah Tuhan-Raja segala kemuliaan.
Kita juga tidak boleh lupa menaikkan sebuah doa lain (Lukas 18:13) : “Tuhan, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Bila kita telah memanjatkan doa ini dengan sungguh-sungguh dan memberikan penekanan yang pantas pada Doa Bapa Kami, kita akan menemukan bahwa semua memang menjadi “lebih baik.”
Kamis, 19 Maret 2009
Mazmur 23
Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di
Sabtu, 14 Maret 2009
“Ketika Semua Hilang”
Kejadian-kejadian dalam hidup kadang membuat aku merasa diabaikan oleh orang lain dan Tuhan. Biasanya, saat aku dikecewakan orang lain, aku selalu mengadu kapada Tuhan. Tetapi selama beberapa tahun aku patah hati dan pikiranku kusut, aku merasa Allah pun telah meninggalkanku.
Lalu aku ingat saat Yesus dicobai dan peristiwa yang Ia hadapi demi kepentingan kita. Seperti aku, Yesus pun merasa ditinggalkan oleh orang-orang disekitarNya dan bahkan oleh Allah, Sang Bapa. Hal itu membuat aku menyadari, bahwa Yesus Kristus pun bersama denganku saat aku mengalami kesukaran demi kesukaran. Bahkan hal yang paling aku ingat adalah kenyataan, bahwa Yesus memilih untuk menyamakan diri-Nya dengan kita dalam rasa sakit dan keterhilangan sebagai manusia, walaupun sebenarnya Dia bisa saja tetap tinggal dalam kebahagiaan dan sukacita surgawi.
Kesukaran-kesukaran yang kualami telah menolong aku untuk menyadari kebenaran pernyataan lain, kali ini yang tertulis dalam Efesus 4:10 : “Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi daripada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.” Aku memang belum sepenuhnya keluar dari berbagai kesulitan, tetapi aku berpegang teguh pada janji ini : “Allah ada di dalamnya,
Jumat, 13 Maret 2009
“Menghadapi Goliat”
“Tuhanlah Perlindunganku”
Pernah terjadi badai besar di pelabuhan Kandala - pesisir barat
Sebuah keluarga Kristen yang sangat miskin bekerja sebagai buruh di pelabuhan tersebut. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil, tetapi berkat anugerah Tuhan, seluruh anggota keluarga mereka selamat. Walaupun mereka harus kehilangan segalanya, Tuhan menunjukan kepada mereka, bahwa napas hidup mereka jauh lebih berharga dibandingkan seluruh harta milik mereka. Mereka melewati masa-masa sulit, namun Allah beserta dengan mereka, dan tidak pernah meninggalkan mereka.
Ketika kita melalui masa-masa sulit, situasi dan masalah yang datang dapat saja beraneka ragam. Budaya dan
Kamis, 05 Maret 2009
“Hidup dari Pusat”
A Tastement of Devotion-Thomas Kelly, mengatakan bahwa “jauh di dalam diri kita terdapat sebuah bait kudus yang menakjubkan bagi jiwa, sebuah pusat Ilahi, sebuah suara yang berbicara”. Pusat ini memanggil kita kembali padanya saat kita menemukan kembali keberadaan kita dalam Allah. Ketika kita memberi diri pada “panggilan-panggilan tersebut” dan bertekad untuk menyerahkan diri kita pada “Terang yang ada di dalam”, kehidupan kita yang sesungguhnya baru dimulai.
Pusat Ilahi merupakan rahasia kehidupan kudus Yesus dan kekuatan yang mengubah. Temukan rahasia ini dalam dirimu. Sediakan waktu untuk membaca Alkitab maupun buku-buku rohani. Berhentilah beberapa saat, beri tempat bagi Allah dalam keheningan di hatimu; dengarkan undangan yang berasal dari dalam; percayakan hidupmu dalam pimpinan Allah; biarkan saat bersama Allah membawa damai bagi jiwamu dan mempertajam kehidupanmu di dunia.
