Rabu, 17 Maret 2010

Aku Minta Maaf Karena Aku Mencintaimu

Malam ini hujan.

Sudah sejak siang, sore dan sampai malam ini hujan terus saja mengguyur tanpa perduli aku berada di atas motor, menerjang hujan dari satu tempat ke tempat lain. Aku kedinginan saat ini, saat duduk di depan televisi mungilku, menonton entah tayangan apa di sana sambil terus menyuap sekotak es krim yang ada di pangkuan, sendok demi sendok tanpa sadar. Karena aku sedang termenung dengan satu kata mengulang-ulang di dalam kepalaku: maafkan aku, sayang.

Benar, yang paling aku inginkan saat ini hanyalah meminta maaf. Berulang-ulang, sambil merangkak bahkan sampai menangis darah. Karena kesalahanku sudah begitu besar dan aku tidak yakin akan ada satu orang pun yang bisa mengampuniku. Tanpa kesalahan ini, dosaku sudah begitu besar dan dengan adanya dosaku yang satu ini aku yakin neraka akan menerimaku tanpa ragu dan dengan tangan terbuka.

Bukan, bukan karena aku telah membunuh, merampok, memperkosa atau memfitnah. Walaupun aku tidak yakin bahwa apa yang telah aku lakukan mungkin saja bisa membuat dampak perbuatan-perbuatan dosa itu aku lakukan juga tanpa aku sadari. Karena itulah aku katakan bahwa apa yang telah aku lakukan adalah dosa terbesar. Karena itulah saat ini aku termenung seperti orang tolol. Aku hanya berharap bisa bertemu dia dan mengungkapkan semua hal yang ada di dalam kepalaku: kata-kata permintaan maaf yang diulang-ulang itu.

Aku minta maaf karena aku mencintaimu.
Aku minta maaf karena aku…
Aku minta maaf karena…
Aku minta maaf...
Aku minta…
Aku…
Dan akhirnya air mataku mengalir.

Acara televisi sudah benar-benar aku abaikan, kotak es krim sudah aku singkirkan dan kini lututku melipat, kepalaku menunduk di atas lutut dan aku menangis, bersunguk-sunguk sampai sesak napas. Hal pertama yang paling aku sesalkan saat aku resmi menjadi dewasa adalah keadaan otakku yang hampir setiap saat dipenuhi pertanyaan. Kini, sama seperti hari-hari yang kulalui selama bertahun-tahun belakangan ini, otakku dipenuhi berbagai pertanyaan. Begitu banyak. Begitu banyaknya mungkin saja kalau otak dan tempurung kepalaku pecah berkeping-keping, aku yakin pertanyaan-pertanyaan itu akan terus mengalir tanpa henti selama berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun.

Kenapa? Kenapa aku begitu mencintaimu tapi akhirnya aku harus meminta maaf karena telah mencintaimu? Kenapa pada saat puzzle hidupku sudah terasa lengkap, segalanya mendadak berubah begitu sulit untuk di jalani? Kalau saja dari awal aku tahu bahwa mencintai seseorang akan begitu terasa menyakitkan dan berat seperti ini, mungkin aku lebih memilih untuk tidak mencintai saja. Karena rasanya begitu menyakitkan, begitu menyesakkan. Aku tidak pernah menyangka kalau cinta bisa begitu kejam, tapi sekarang aku tahu kata-kata itu terbukti benar.

Aku tegakkan kepalaku, meluruskan lututku yang mulai terasa kram, menyapu hidungku yang kotor belepotan, mataku juga, lalu mencoba menarik napas panjang. Tapi celakanya, pertanyaan lain menghampiri otakku.

Kalau begitu, apakah aku tidak boleh mencintai? Tapi kalau ternyata mencintai berarti kebahagiaan bagiku, apa itu artinya aku tidak boleh bahagia? Jadi apa yang pantas aku dapatkan? Aku hanyalah manusia biasa yang berusaha mencari kebahagiaan dengan berjuang menghadapi hidup yang begitu berliku dan nyaris kelihatan tanpa arah dan harapan. Jika semua itu malah menyakitiku, apalah artinya aku mengejar kebahagiaan itu? Jika cinta tak lagi membahagiakanku, jika hidup membuat perih, jika semuanya membuatku sakit dan merasa dikhianati. Pernahkah kau merasa hidup menusukmu dari belakang? Aku pernah dan sedang mengalaminya. Percayalah, semua itu membuatmu ingin bunuh diri.

Benar juga kata Bunda : kita tidak boleh mencintai seseorang hingga seratus persen, karena kita akan merasakan sakit yang berkali-kali lipat saat kehilangannya. Bisa dua ratus, tiga ratus, beratus-ratus. Aku sudah terjebak di dalam dilema itu, tanpa aku sadari. Sungguh sial, sebentar lagi aku bisa saja bunuh diri karena cinta itu.

Sekarang aku mengusap air mataku dengan kasar, merasa begitu kesal karena air mata-air mata itu seenaknya saja jatuh ke pipiku tanpa meminta izinku sebelumnya. Kalau bisa, tentu saja aku tidak akan menginzinkan satu tetes air mata pun jatuh ke pipiku. Mungkin air mata kebahagiaan masih bisa aku toleransi, tapi jika air mata itu akibat penderitaan? Tolonglah, aku sudah cukup menderita, jangan membiarkanku menderita lebih jauh lagi.

Cinta tidak bisa di kekang. Dan cinta tidak bisa diperlakukan dengan egois. Kau harus belajar untuk mengerti dan merelakan.

Aku tidak lagi perduli dengan air mataku, tidak perduli dengan kepalaku, apa lagi pertanyaan-pertanyaan di otakku. Karena selain kelegaan yang aku rasakan karena menemukan solusi untuk mengatasi keadaanku sebelum orang lain memaksaku masuk ke rumah sakit jiwa, aku juga sekaligus merasakan kekecewaan. Kenapa hidup tidak mau membiarkanku mengecap kebahagiaanku begitu saja? Tak perlu campuri, tak perlu bumbui, aku hanya ingin merasakan kebahagiaan sebagaimana adanya, itu saja.

Lihat, kan? Lagi-lagi daftar pertanyaan di dalam otakku yang memenangkan tempat utama dan berhasil memperngaruhiku lebih dulu. Tidak ada jalan lain, aku harus mulai mempelajari jurus itu. Mengerti dan merelakan, itu saja. Astaga, mengatakannya saja sudah terasa begitu berat. Aku Lelah… “

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan Pendapatmu...