Powered By Blogger

Rabu, 31 Maret 2010

Di Epoh Mana Kita Tinggal?


Sebuah kelompok yang terdiri dari para pakar geologi mengusulkan epoh geologis baru, Anthropocene, yang meliputi sekitar 200 tahun sejarah geologis. Usulan ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa aktivitas manusia telah menjadi agen perubahan terbesar bagi topografi dan iklim Bumi selama dua abad terakhir ini.
Tiap-tiap lapisan kerak Bumi mengungkap bagaimana kondisi di masa lampau Bumi. Para peneliti telah menelaah secara teliti sejarah geologis ini, memilah-milah lapisan, dan mengklasifikasikannya ke dalam berbagai durasi seperti eon, era, perioda, dan epoh. Sebagai contoh, periode Carboniferous (360-300 juta tahun lalu) untuk deposit batubara yang luas, terbentuk di daerah berhutan-hutan dan berawa-rawa. Bahkan istilah-istilah juga diambil dari biologi seperti Paleozoic (~kehidupan purba) dan Cenozoic (~kehidupan yang lebih muda).
Bumi telah diterpa berbagai kekuatan alam sepanjang hayatnya, berupa tiupan angin, terpaan gelombang, dan pancaran sinar matahari. Namun, pengaruhnya terhadap kehidupan bervariasi. Kemunculan makhluk yang bisa berfotosintesis sehingga menghasilkan oksigen, berkembangnya tumbuhan daratan, dan peristiwa-peristiwa evolusioner lainnya telah mengubah wujud planet biru kita secara dramatis. Dan kini, giliran manusia yang berperan. Dalam 200 tahun terakhir, semenjak jumlah populasi manusia melonjak hingga 1 milyar, pemanfaatan bahan bakar fosil, tumbuh kembangnya kota-kota metropolitan, dan pengaruh-pengaruh lainnya mulai berdampak pada proses pelapisan-pelapisan tanah serta batuan. Atas dasar itulah sebuah kelompok ilmuwan dari Inggris ingin mengubah tatanan geologis untuk mengakomodasi perubahan tadi.
Pakar geologi dari Universitas Leicester U.K., Jan Zalasiewicz, meminta International Commission on Stratigraphy secara resmi menandai akhir epoh sekarang. Nama yang diajukan adalah Holocene (~seluruhnya baru), dimulai sejak pascazaman es terakhir, sekitar 10.000 tahun yang lalu. Sementara, epoh yang paling anyar dan mutakhir mestinya dinamai Anthropocene. Sebagai landasan argumen, para peneliti tadi mengutip beraneka ragamnya tren sejak awal Holocene hingga saat ini. Tren-tren tersebut menunjukkan tanda-tanda yang jelas dipengaruhi oleh aktivitas manusia, dan beberapa di antaranya telah menjadi nyata dalam rekaman geologi. Sejak tahun 1800-an konsentrasi timbal di air dan tanah telah meningkat drastis, karbondioksida memenuhi atmosfer, dan bendungan-bendungan memerangkap sejumlah endapan. Mereka berpendapat bahwa proses-proses ini mengimbangi, bahkan melebihi, kekuatan alam.
Ahli geologi dari Pennsylvania State University, Richard Alley, menguatkan argumen tadi. Ia menyebutkan impak manusia terhadap air, udara, es, dan ekosistem jelas terlihat, besar, dan terus meningkat. Jauh di masa depan, para ahli geologi akan menarik garis baru dan mulai memakai nama baru untuk suatu masa dan tempat ketika impak kita tampak.
Sumber: AAAS ScienceNOW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan Pendapatmu...