Selasa, 30 Maret 2010

Tiga ilmu inti menghasilkan pasif income


Pasif murni menurut rich dad nya Kiyosaki adalah real estate. Yang setengah pasif (disebut portofolio) adalah penghasilan dari saham. Bisnis juga setengah pasif yang didapat dari pengeluaran baik – yaitu yang mengurangi pajak dan menambah aset- (good expense) dan deviden (hak saham yang bersifat portofolio).
Uniknya saat mendengarkan audio book Kiyosaki, dia bilang bahwa sumber utama adalah : bisnis, real estate, dan asuransi. Asuransi? Ya, asuransi.
Setelah coba saya renungkan, menurut saya pemahamannya seperti ini, yaitu :
  • Bisnis : esensinya adalah sistem yang berjalan baik tanpa kehadiran anda. Buku yang baik mengenai ini adalah buku Michael Gerber berjudul E-Myth.
  • Real estate : esensinya adalah hak hukum, anda dibayar karena diberi hak oleh hukum, misalnya paten, menyewakan alat, bahkan menyewakan udara! (Misalnya frekuensi seluler. Kabarnya sebuah operator perlu bayar ke negara hingga 400 milyar setahun untuk menggunakan frekuensi tertentu. Artinya negara mendapat pasif income dari hal ini.) Tukang parkir juga sebenarnya punya hak real estate. Preman yang suka ngutip (sama halnya aparat ‘jahat’) juga mendapatkan uang dari real estate (baca: pemerasan).
  • Asuransi : esensinya adalah manajemen resiko. Permainan saham dan valas sebenarnya juga wujud dari permainan asuransi. Anda beli saat murah, diproteksi pakai asuransi, lalu dijual saat mahal. Menanam modal dan bisnis asuransi adalah bentuk manajemen resiko.
Semua kegiatan yang menghasilkan pasif dapat terkategori dalam salah satu hal di atas. MLM juga menerapkan hal yang mirip yaitu kombinasi sistem dan hak hukum. Anda punya hal hukum dibayar dari kinerja downline (real estate). Bertindak sebagai agen (penjualan tiket, distribusi voucher, dsb) merupakan kegiatan ‘real estate’ juga.
Sementara itu bila Anda membuat dan menjual produk sebenarnya masuk kategori sistem bisnis. Dalam hal ini bukan produknya yang penting, tapi sistem produksi dan penjualannya yang penting. Bila kita memberikan lisensi produk, maka kita masuk dalam bisnis ‘real estate’ yaitu royalti dari paten maupun franchise.
Yang juga menarik adalah asuransi. Ini permainan tingkat tinggi yang dipahami kalangan kaya. Kalau orang miskin tidak mau (dan tidak mampu) beli asuransi, kelas menengah membeli asuransi, maka orang kaya menjual asuransi. Dengan ilmu matematika aktuaria, dan prinsip-prinsip pengelolaan investasi, maka resiko bisa diperhitungkan dan disiasati.
Singkatnya : ilmu pasif income ada di tiga hal tersebut, yaitu kemampuan membuat sistem (bisnisman baru disebut berhasil kalau bisa meninggalkan bisnisnya di tangan orang lain, dan bisnisnya tetap jalan terus), kemampuan mendapat hak hukum (orang politik dan broker nih biasanya, juga pemegang paten dan franchise, juga para pemilik real estate), dan kemampuan manajemen resiko (pengelola investasi, seperti Warren Buffet, juga penjamin asuransi)
Simple story. Suatu ketika saya mendapat kesempatan menjembatani investasi bisnis di bidang transportasi. Karena jasa itu saya mendapat komisi selama 2 tahun sebesar 2 persen dari nilai investasi. Ini termasuk jenis hak hukum (real estate). Lumayanlah, setiap bulan saya mendapat pasif income yang nilainya sebesar gaji bulanan saya! Bayangkan kalau tiap bulan kita mampu mencetak uang dengan cara seperti itu. Jelas bisa kaya.
Salah satu konsep yang menarik dari rich dad adalah teka-teki 90/10, yaitu kemampuan 10 persen orang yang sanggup menguasai 90 persen uang di dunia ini. Teka-teki itu adalah : bagaimana menghasilkan uang tanpa mengeluarkan uang. Hal ini mungkin, dengan terus berlatih. Anda bisa menjadi agen transaksi, menjadi pemodal sementara sebelum menjual lagi, beli volume besar kemudian dibuat retail, dan sebagainya. Kalau sudah bisa memecahkan teka-teki ini berarti Anda adalah kandidat 10 persen orang yang menguasai 90 persen peredaran uang.
Saya mau berbagi cerita yang menurut saya hebat sekaligus bisa membuat sedih. Ini saya dapat dari orang Indosat mengenai kontroversi penjualan saham Indosat sekitar dua tahun lalu. Saya tulis sebagai bahan pelajaran bahwa orang Indonesia itu pintar (IQ tinggi), namun orang Singapura lah yang cerdik (PowerQ nya tinggi). Kalau Anda punya info lebih akurat, mohon saya dikoreksi (info ini saya dapat dari orang dalam yang terpercaya, pihak yang protes dengan transaksi itu, tentu saja masih sudut pandang sepihak).

Saat itu pemerintah butuh duit. Maka Indosat dipilih untuk divestasi. Menurut kabar, saham Indosat bernilai buku setara 25 ribu per lembar. Namun karena pasar lesu – dan di’goreng-goreng’ para pelaku saham – nilai saham ini berhasil dijatuhkan hingga seakan-akan 8 ribu saja (pedih). Maka datanglah pihak Singapura dengan ‘gagah’ mengatakan bahwa akan membeli di harga 12 ribu, premium 50% lebih tinggi dari pasar. Watch out, harga ‘asli’nya 25 ribu, dibuat seakan 8 ribu, lalu dibeli 12 ribu. Walau seperti gagah, sebenarnya nilai pembelian itu hanya separuh harga aslinya! Kalau pemerintahnya cukup cerdas, mestinya jangan dijual itu saham!

Cerita berlanjut. Kabarnya pihak STT Singapura meminjam bank untuk membeli saham tersebut, dengan jaminan : saham Indosat yang dibeli itu sendiri! (karena nilainya sebenarnya 25 ribu, dua kali lipat nilai pinjaman)
.

Oke. Akhirnya Indosat dibeli dengan nilai 600 juta dolar untuk berapa ya, 50% atau 40% saham (saya lupa). Saat itu Indosat dinilai hanya dari bisnis selulernya (Satelindo dan IM3), padahal Indosat memiliki jalur backbone terbesar keluar negeri! Sebagai pembanding, telkomsel melepas nilai 12% sahamnya sebesar 360 juta dolar ke pada SingTel Singapura. Apakah nilai Indosat semurah itu?

Nah ini bagian cerdiknya. Singapura kemudian memecah saham Indosat (split) menjadi 5 bagian yang lebih kecil. Setiap saham baru dia beri harga 5 ribu. Lebih murah daripada sebelumnya? Tentu tidak, saudara. Total 5 saham baru seharga 5ribu senilai dengan 1 saham lama seharga 25ribu. Saham Indosat kembali dinaikkan ke harga aslinya!

Jadi bila pihak Singapura melepas separuh sahamnya, maka dia sudah bisa membayar lunas hutangnya ke bank! Dan tetap memiliki separuh sisanya, seakan GRATIS!

Nasib buruk memang menyertai bangsa yang bodoh dan sedang miskin. Sekarang kabarnya kita berusaha naik banding menggagalkan transaksi aneh itu, bahkan terbetik kabar mau membeli balik saham Indosat dengan harga baru tersebut (ah, bodoh sekali…). Kata rekan yang pihak dalam itu, dengan nilai pinjaman 600 juta dolar, sebenarnya Indosat sendiri mampu mengembalikan investasi dalam 4 tahun. Cukup dipinjami, tidak perlu dijual dengan konyol! Dengan 200 juta penduduk, bisnis komunikasi di Indonesia selalu cerah, dan Indosat saat itu adalah perusahaan yang sangat sehat. Jadi, mengapa harus Inul.. eh salah Indosat?

Lesson : kita perlu belajar menciptakan uang tanpa uang dengan kecerdikan Singapura itu (tentu saja tanpa permainan politik tak etis –kalau memang ada- di belakangnya). Itulah mengapa Singapura lebih kaya, mereka mampu memecahkan teka-teki 90/10, menciptakan uang tanpa uang. Benarlah kata rich dad nya Kiyosaki : uang itu cuman gagasan!

(Informasi itu akurat dari pihak dalam, tapi kalau ada yang bisa menyeimbangkan akan lebih baik. Info tersebut dari kubu penentang divestasi Indosat. Silahkan Anda nilai sendiri keakuratannya.)
Oke, kita sudah diberitahu 3 ilmu inti menghasilkan pasif income. Kalau menguasai salah satu ilmu itu saja sudah hebat. Syukur-syukur kalau kombinasi dua, atau ketiganya sekaligus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berikan Pendapatmu...