Rabu, 17 Maret 2010

Profesi Tak Menentukan Nurani

Inilah Pendapatku…Menurut Pengalamanku


Seperti ceritaku sebelumnya (sory gagal posting), saat aku terjebak di kota Semarang tanpa daya, tanpa uang…

Kecopetan dan pemalakan merupakan kejadian yang tak pernah kubayangkan terjadi pada diriku sendiri. Disini kuceritakan bagaimana aku bertemu orang-orang yang berbudi baik dan yang tak berperasaan, bagaimana aku mendapat penolakan dan belas kasihan. Semuanya itu malah membuatku tercengang dan heran.

Begini ceritanya…Setelah kejadian pencopetan dan pemalakan aku ditolong oleh supir-supir taksi yang ada didekat situ, aku diberikan tempat untuk berteduh dan istirahat di pos taksi. Walaupun tidur di pinggir kali yang banyak nyamuk dan diselimuti angin yang dingin berhembus, itu sudah membuatku merasa nyaman dan aman karena ditemani oleh banyak orang.

Pagi menjelang…aku bermaksud minta bantuan di pos polisi terdekat. Lama aku menunggu di pos polisi, tiba-tiba ada tukang ojek yang menghampiriku dan menawariku sarapan. Selesai sarapan aku pun mencoba kembali untuk menemui Pak Polisi yang ternyata sudah hadir di pos. Besar harapan untuk mendapat bantuan, atau paling tidak sambutan hangat. Tapi malah aku disuruh pergi ke Polsek setempat dan pintu langsung ditutup. Aku tak tahu letak Polsek tersebut,ku Tanya tukang ojek – eh malah mereka ada yang bersedia mengantarkanku. Satu kejadian yang menghasilkan banyak makna, ternyata supir taksi dan tukang ojek masih lebih memiliki Kasih daripada Polisi tadi. Walaupun penghasilan dari pekerjaan mereka tak sebanding dengan Polisi.

Pengalamanku tak berhenti sampai disitu. Setelah diantar sampai ke Polsek, aku minta bantuan pada Pak Polisi untuk dibuatkan surat jalan. Ku ceritakan semua apa yang telah terjadi, tapi tak disangka aku malah dituduh berbohong karena “kecopetan, dompet kok masih ada?”. Mana aku tahu jalan pikiran si Pencopet!. Aku disarankan untuk ke Kantor Polisi Terminal. Aku yang sudah tak punya uang terpaksa berjalan menuju terminal. Sesampainya disana lagi-lagi aku mengalami penolakan, mereka menolakku dengan alas an hanya pos lalu lintas. Mungkin mereka benar…tapi yang membuatku tidak terima adalah kok mereka kesannya menganggap aku tuh cuma pengganggu dan mereka tak memberikan solusi apapun, apalagi bantuan. Lebih parahnya lagi aku disuruh balik ke Polsek setempat. Aku yang terpancing emosi akhirnya pergi dan tak percaya lagi pada polisi setempat.

Aku mencari jalan keluar sendiri, akhirnya kuputuskan untuk mencari rumah temanku yang ada di Semarang. Cukup jauh juga, sekitar 15 km kata orang yang kutanya. Agak lama kuberjalan, aku bertanya pada seorang mas-mas arah ke Simpang Lima – karena yang kuingat hanya arah ke rumah temanku ya lewat simpang lima. Setelah lama ngobrol dan orang itu tahu apa yang baru saja terjadi padaku, dia merasa iba. Dia bermaksud membantuku untuk mencarikan bis kota yang ke arah tujuanku. Aku sungguh terharu, karena dialah jalan pembuka untuk aku dapat menemukan rumah temanku. Singkat cerita aku mendapatkan bis. Dan disitu aku ngobrol dengan kenek bis tersebut. Dia yang mendengar ceritaku pun merasa kasihan sehingga aku tidak ditarik bayaran dan aku diantarkan sampai tujuan bahkan dia memberikanku bekal (Rp 5000,-) yang sangat berarti bagiku.

Aku berusaha mencari rumah temanku yang alamatnya saja aku tah tahu, tapi berbekal ingatan yang minim akhirnya aku pun dapat menemukan rumah temanku itu.

Intinya aku igin bicara bahwa akhirnya aku sadar…Profesi seseorang – apapun itu – tak menutup Nurani individu tersebut untuk mengasihi dan membantu sesama…seperti supir taksi, tukang ojek, laki-laki pengangguran, kenek bis, dan aku yakin masih banyak yang lain

1 komentar:

Berikan Pendapatmu...