Kamis, 24 Desember 2009

Relationship

Diantara dua tebing ini kita bangun sebuah jembatan, 
satu sisi tebing adalah hamparan tanah yang subur, 
sisi tebing yang lainnya hanyalah sebuah tanah tandus.
  • Ada sebuah kisah lama dimana dua orang menempati daerah berbeda yang dipisahkan oleh suatu sungai, salah satu orang tersebut menempati daerah yang subur dengan berbagai jenis tanaman dan satunya lagi menempati daerah tandus, hanya tanaman tertentu saja yang dapat tumbuh. Kedua orang tersebut tidak saling mengenal dan bertegur sapa. Suatu saat mereka bertemu di sungai tersebut dan tertarik untuk saling mengenal dan mengetahui masing-masing daerah yang asing bagi mereka. Setelah membuat kesepakatan bersama, mereka membangun sebuah jembatan yang dapat menghubungkan kedua daerah tersebut sehingga memudahkan bagi mereka untuk saling mengunjungi. Mereka sadar bahwa kedua daerah tersebut memang seharusnya saling terhubung satu sama lain. 
  • Seiring berjalannya waktu, mereka dapat saling mengenal satu sama lain bahkan mereka membuat kesepakatan baru untuk saling berbagi tempat di kedua daerah tersebut. Daerah yang subur dijadikan tempat bercocok tanam bagi keperluan hidup mereka berdua dan daerah yang tandus, dibangun rumah yang kokoh dan aman terhadap gangguan alam dan binatang. Bahkan kedua orang tersebut memutuskan untuk hidup bersama dalam satu rumah. 
  • Relasi adalah sebuah proses saling melengkapi diantara pribadi beda, dengan segala kelemahan dan kekurangan yang melekat di dalamnya sehingga dibutuhkan sikap saling memahami, mengerti dan menerima satu diantara yang lainnya. Sebuah relasi berperan dalam menjembatani perbedaan diantara kedua pasangan dan menjadi wadah bagi penyatuan dua dunia yang berbeda dalam persepsi. Kadang pasangan kita bukanlah pribadi yang kita angankan, tapi bukankah kita hidup menetap dan berinteraksi di dunia yang nyata? Segala kelemahan dan kerapuhan satu pribadi akan ditopang dan dikuatkan oleh pasangan relasinya, demikian pula sebaliknya. 
  • Setiap pribadi memiliki tingkat kematangan psikologis dan kedewasaan berpikir yang berbeda satu sama lain dalam menyikapi segala aspek kehidupan, kita seringkali terjebak untuk bersikap dan berpikir berdasarkan persepsi kita sendiri. Sebuah dunia kecil. Namun dengan penyatuan ini, dunia kita menjadi luas sehingga kita tidak lagi terkungkung dan hanya mengenal dunia yang kita tempati. Pemahaman persepsi yang berbeda itu akan melebur, lahir menjadi dunia baru yang luas dimana dunia kecil dari dua pribadi itu dapat saling bertemu dan selaras. Kini kita dapat saling berkunjung ke dunia kecil pasangan kita untuk mencoba mengenal dan memahaminya tanpa adanya sikap menguasai terhadap salah satu pasangan. 
  • Proses tersebut merupakan sebuah awal bagi kita untuk berkreasi menciptakan sesuatu hal baru secara bersama. Bahkan segala potensi yang terpendam akan lebih tergali dan muncul, sebab kini kita telah mendiami tempat yang luas dimana dunia baru ini mampu menampung perbedaan untuk melengkapi satu sama lain sehingga tercipta sesuatu yang baru dan baik bagi kita. 
Tubuh-tubuh itu berusaha melewati gang sempit ini, 
dari mulut manisnya tawarkan setumpuk harapan palsu untukku. 
Kini gang sempit ini telah kututup rapat, 
biar mereka tak bisa lagi masuk dan mengusikku. 
  • Sebuah relasi antara dua pribadi terdapat celah bagi pribadi lain untuk hadir dan menggoyahkan komitmen yang telah disepakati bersama. Hubungan yang telah terbangun menjadi rentan terhadap godaan dari seseorang yang hadir di saat kita kesepian, merasa seolah seorang diri dengan kesulitan dan permasalahan yang kita hadapi. Kita tidak sadar bahwa rasa sepi adalah sebuah kondisi yang kita ciptakan sendiri atas ketidakmampuan kita menerima kegagalan pasangan kita menjadi pribadi yang kita harapkan untuk bisa hadir dan memenuhi kebutuhan kita. Semua itu akan menjadi sebuah kesia-siaan belaka, tatkala kita memaksakan pasangan kita supaya mampu memenuhi segala bentuk kebutuhan kita, akhirnya ego menguasai diri kita dengan sikap kita yang berusaha mencari pemenuhan kebutuhan dari pribadi lain dan mendevaluasi pasangan kita. Kitapun akan kehilangan makna sebuah relasi. 
  • Kebutuhan dalam sebuah relasi hanyalah sekedar rasa dan kadang bersifat temporal semata. Ibarat ketika hari ini kita menginginkan minuman dengan rasa strawberry tetapi yang tersedia hanyalah rasa orange, apakah kita harus mencampakkannya? Pasangan kita dapat diandaikan sebagai minuman bercita rasa orange dan kebutuhan kita adalah minuman dengan cita rasa strawberry. Apakah karena pasangan kita tidak mampu menghadirkan dan memberikan rasa tertentu pada diri kita, maka kita akan meninggalkannya dan mencari pribadi lain? Tak seorangpun manusia yang bisa sempurna dan mampu secara pribadi untuk memenuhi segala bentuk kebutuhan kita. 
  • Apakah dalam sebuah relasi yang telah dilandasi dengan komitmen, kita berani untuk mau dan mampu menerima pasangan kita sebagai pribadi dengan rasa dan kekhasannya? Atau kita mencoba mencari dan mencari terus, dan memberikan kesempatan hadirnya pribadi lain hanya sekedar untuk memenuhi segala rasa yang kita inginkan? Sampai kapan? 
Lapuk perahuku terkayuh kulai tertahan badai, 
sejenak layar asaku kehilangan arah mencari dermaga bersimpuh letih. 
Kemana lagi harus kulempar sauh dan kuturunkan segala beban, 
hingga waktunya tiba untuk mengangkat sauh dan kembali laju perahuku 
  • Perjalanan sebuah relasi bagaikan sebuah perahu yang berlayar dari dermaga satu ke dermaga lain menuju suatu tempat perhentian terakhir. Kejenuhan dan hambarnya sebuah relasi seringkali menghampiri dan menjadi momok yang sulit diatasi. Tak ayal lagi komitmen dengan segala kesepakatan dan tujuan hidup bersama menjadi terkoyak dan kehilangan arah akan dibawa kemana sebuah relasi. Segala kompromi dan toleransi yang terjalin diantara dua pribadi selama ini seolah tercabut, dan dihempaskan ke dasar laut. 
  • Tak dapat disangkal, kadang kita sibuk dan larut dengan dunia kita sendiri tanpa menghiraukan pasangan relasi kita, apalagi ditambah dengan keletihan beban hidup masing-masing pribadi dan kebosanan akan rutinitas selama berelasi membawa pengaruh yang tak dapat pungkiri menjadi alasan kegagalan sebuah relasi. Kita terjebak pada seputar permasalahan tanpa mencari solusi yang bersifat kolektif, akhirnya permasalahan terdistorsi menjadi sebuah konflik. 
  • Badai dan gelombang dalam perjalanan sebuah relasi seringkali membuat hidup kita seolah-olah terhenti bahkan surut untuk menghadapi realitas hidup ini. Namun kita harus bijak dengan memaknainya sebagai sebuah jeda. Dimana sejenak kita meletakan segala beban dan mencari energi baru untuk melanjutkan perjalanan hidup. Menjadi pertanyaan bagi kita, apakah kita begitu saja menyerah dengan kenyataan ini. 
Jalanku dan jalanmu adalah jalan kita, 
dan kita warnai jalan kita dengan warna kita pula. 
  • Tekanan ataupun kesulitan hidup tak bisa lepas dari kehidupan sebuah relasi, namun itu semua hanyalah warna hidup. Kita harus meyakini bahwa warna hidup tidaklah absolut, warna dapat berubah sesuai kehendak kita. Bukankah jika kita menginginkan warna putih kita bisa mendapatkannya dengan mencampurkan warna merah, hijau dan biru ataupun dengan menggabungkan warna kuning dan biru? Sesuatu tak ada yang mustahil untuk merubah warna hidup kita. Dibutuhkan adanya daya cipta kreasi dalam kehidupan kita yang secara dahsyat mampu merubah apapun warna hidup kita. 
  • Kerjasama dalam relasi menjadi salah satu kunci bagi kreativitas daya cipta kreasi. Relasi menjadi semu apabila setiap pasangan relasi berjalan sendiri-sendiri tanpa melibatkan pasangan relasinya. Mungkin jika hanya sebagai satu pribadi kita akan sulit berkreasi menghasilkan warna hidup baru, namun dengan penggabungan dua pribadi dalam kerjasama segala sesuatu akan mudah sebab kita telah mengabungkan warna hidup masing-masing pribadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berikan Pendapatmu...