Minggu, 23 Januari 2011

Sisi Gelap Entrepreneurship

Berikut adalah beberapa “ancaman” yang membayangi seseorang entrepreneur, ketika mereka baru saja memasuki gerbang entrepreneurship. Pastikan Anda telah mengetahui “ancaman bahaya” yang akan Anda hadapi, sehingga jika memang Anda dan Bisnis Anda ditakdirkan untuk berhadapan dengan masalah-masalah tersebut, Anda mampu untuk merancang solusi yang tepat.


Pendapatan yang Tidak Pasti
Membuka dan menjalankan bisnis sendiri berari memasuki arena yang tidak akan pernah menjamin Anda mendapatkan pendapatan yang cukup untuk membuat Anda survive (bertahan) di bisnis ini. Bahkan pada tahap awal, sang pemilik yang biasanya juga merangkap sebagai manajer, tidak mendapatkan penghasilan yang sepadan dengan segala jerih payahnya.

Banyak entrepreneur yang pada tahap awal berhadapan dengan masalah keuangan. Ada yang bisa bertahan dengan tabungan yang mungkin mereka masih miliki. Anda harus ingat, sebagai pemilik usaha, Anda adalah orang terakhir yang menerima gaji (itu pun jika masih ada yang bisa dibagi!).

Risiko kehilangan seluruh investasi
Angka kegagalan small business di AS relatih tinggi. Berdasarkan riset terakhir, 24% bisnis skala kecil dan menengah tutup dalam jangka waktu dua tahun. Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya jika Anda bertanya kepada diri Anda sendiri, siapkan Anda secara psikologis untuk menghadapi kegagalan. Pertanyaan-pertanyan berikut tampaknya perlu direnungkan.
 Dampak terburuk apa yang mungkin akan menimpa saya, jika saya membuka bisnis dan ternyata berujung pada kegagalan?
 Apa yang dapat saya lakukan untuk meminimalisasi risiko gagal?
 Jika ternyata bisnis saya harus gagal, apa rencana “cadangan” yang dapat saya persiapkan untuk menanggulangi kegagalan tersebut?

Banting Tulang dan Tak Kenal Waktu
Bisnis yang baru berjalan seringkali meminta sang pemilik untuk menggunakan ‘nightmarish schedule” (Jadwal kerja yang sangat padat). Betapa tidak, berdasarkan hasil survai, rata-rata dalam seminggu seorang pemilik usaha baru menghabiskan waktu tingga 56 jam.

Pada banyak bisnis yang baru saja dirintis, 6 hingga 7 hari bekerja dalam setiap minggunya adalah sebuah hal yang biasa. Berdasarkan riset yang digelar oleh American Express, tidak kurang dari 29% entrepreneur tidak memiliki rencana untuk berlibur di musim panas. Alasan utama mereka adalah karena mereka merasa sangat sibuk.

Para entrepreneur itu merasa ketika mereka menutup sementara usahanya (untuk kepentingan berlibur misalnya), itu sama saja dengan menghentikan pendapatan atau keuntungan. Mereka yakin pelanggan akan pergi ke tempat lain jika mereka menutup sementara bisnisnya.

Kualitas Hidup Rendah (sebelum bisnis Anda sukses)
Seorang entrepreneur yang juga merupakan pemilik bisnis seringkali menemukan perannya sebagai suami atau sebagai seorang istri, atau sebagai seorang ayah atau sebagai ibu, agak sedikit tergeser dengan peran barunya sebagai seorang pendiri perusahaan. Salah satu penyebabnya adalah kenyataan bahwa sebagai besar dari mereka merintis bisnis pada usia yang relatif muda atau dengan kata lain sesaat setelah mereka memutuskan berumah tangga (usia antara 25 – 39 tahun). Sebagai akibatnya seringkali sebuah persahabatan atau bahkan sebuah perkawinan tanpa sadar sering ‘dikorbankan’ demi kesuksesan bisnis yang mereka sedang rintis.

Stress Berat
Memulai bisnis baru sekaligus mengelolanya, selain dapat membuatkan pengalaman yang sangat berarti, namun juga dapat menyebabkan stress berat. Seringkali ditemukan seorang entrepreneur mengerahkan seluruh kemampuan finansialnya ketika memulai bisnis. Tak ayal mereka juga menggunakan seluruh dana tabungan yang mereka miliki, bahkan apapun mereka jaminkan untuk mendapat kredit bank.

Jika ternyata kegagalan yang justru menghampiri mereka, itu sama saja dengan kehancuran total finansial sang entrepreneur. Tentu saja kehancuran ini akan menciptakan stress yang berat dan kegelisahan yang mengkhawatirkan.

Tanggung Jawab Besar
Memang menyenangkan menjadi bos, namun seringkali para debutan bos ini berhadapan dengan pembuatan keputusan, pada masalah yang sebenarnya tidak mereka kuasai. Ketika mereka tidak menemukan tempat untuk bertanya, tekanan dengan sendirinya akan memuncak. Dilema pada kenyataan bahwa keputusan itu akan berujung pada sebuah kesuksesan atau sebalinya, pada individu tertentu akan menimbulkan dampak yang cukup menghancurkan.

Putus Asa
Merintis sebuah usaha jelas sangat membutuhkan dedikasi total, disiplin, dan keuletan. Dalam usaha membawa bisnis menuju sukses, sang entrepreneur akan berhadapan dengan berbagai hambatan, dan ada diantaranya yang sangat sulit untuk diatasi.
Ketika berhadapan dengan masalah-masalah tersebut, keputusasaan atau rasa kecewa yang memuncak adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari. Seorang entrepreneur yang sukses, sangat mahfum setiap bisnis pasti akan berhadapan denga berbagai masalah, dan mereka dapat melewati masa-masa sulit tersebut, hanya dengan mengandalkan semangat yang tak kenal menyerah dan persediaan optimisme yang berlimpah.

2 komentar:

  1. Betul banget Mas, sisi gelapnya cukup menyeramkan... tapi semuanya itu mesti di hadapi dengan kesabaran dan sebuah keyakinan bahwa semuanya akan di lewati dengan manis. Karena untuk sukses butuh proses.

    BalasHapus
  2. yap, pahit diawal tetapi manis buahnya.

    BalasHapus

Berikan Pendapatmu...