Berikut adalah beberapa “ancaman” yang membayangi seseorang entrepreneur, ketika mereka baru saja memasuki gerbang entrepreneurship. Pastikan Anda telah mengetahui “ancaman bahaya” yang akan Anda hadapi, sehingga jika memang Anda dan Bisnis Anda ditakdirkan untuk berhadapan dengan masalah-masalah tersebut, Anda mampu untuk merancang solusi yang tepat.
Tampilkan postingan dengan label about Japan and Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label about Japan and Bisnis. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Januari 2011
Keuntungan menjadi Entrepreneur
Berikut adalah beberapa keuntungan yang dapat diraih jika memiliki bisnis sendiri. Tampaknya ini perlu dikemukakan sebagai lecutan untuk segera memutuskan: Apakah Anda seumur hidup lebih senang hanya menjadi karyawan, atau menjadi pemilik bisnis Anda sendiri. Percayalah persoalan utama dalam hidup ini hanya masalah memilih.
Seluk Beluk Entrepreneurship
Selamat bergabung di klub entrepreneurship.
Di Amerika Serikat dalam setiap sebelas detik lahir seorang entrepreneur baru berikut dengan perusahaannya. Data menunjukkan satu dari 12 orang Amerika terlibat langsung dalam kegiatan entrepreneur. Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya entrepeneur telah melahirkan produk dan jasa yang ionovatif, menciptakan lapangan pekerjaan baru, membuka peluang ekspor, dan tentunya semakin mengukuhkan posisi ekspor dan tentunya semakin mengukurkan posisi Amerika dalam kancah perekonomian dunia.
Di Amerika Serikat dalam setiap sebelas detik lahir seorang entrepreneur baru berikut dengan perusahaannya. Data menunjukkan satu dari 12 orang Amerika terlibat langsung dalam kegiatan entrepreneur. Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya entrepeneur telah melahirkan produk dan jasa yang ionovatif, menciptakan lapangan pekerjaan baru, membuka peluang ekspor, dan tentunya semakin mengukuhkan posisi ekspor dan tentunya semakin mengukurkan posisi Amerika dalam kancah perekonomian dunia.
Jumat, 21 Januari 2011
Membuat Business Plan Sederhana
Awal tahun lalu, saya dan beberapa teman-teman “bertapa” untuk menyusun business plan. Honestly, ini bukan pertama kali saya sendiri menyusun business plan. Tapi terus terang, saya lebih banyak melakukan eksplorasi berdasarkan keliaran dan kemerdekaan pemikiran saya, dan relatif jarang didasari oleh dasar tertentu. Hal ini ternyata menyulitkan karena apa yang saya pahami, saya lihat, belum tentu sama dengan apa yang dipahami orang lain. Untuk itu, diperlukan “bahasa semesta” yang dimengerti oleh orang banyak. Oleh karena itu, beberapa bulan sebelum yearly meeting di kantor, saya melakukan eksplorasi dokumentasi tentang bagaimana menyusun business plan yang baik.
Spirit Jepang
武 士道精神... Semangat Samurai
Bushi-dō seishin
帝国ポリシー Kebijaksanaan Kaisar
Teikoku porishī
創 意工夫の将軍 Kepintaran Shogun
Sōi kufū no shōgun
忍 者の敏捷性 Kelincahan Ninja
Ninja no binshō-sei
Bushi-dō seishin
帝国ポリシー Kebijaksanaan Kaisar
Teikoku porishī
創 意工夫の将軍 Kepintaran Shogun
Sōi kufū no shōgun
忍 者の敏捷性 Kelincahan Ninja
Ninja no binshō-sei
Selasa, 09 November 2010
Share Buku 1
Judul : (The Japanese Samurai Code)
Misteri Kode Samurai Jepang
Pengarang : Boye De Mente
Jepang benar-benar luluh-lantak usai dijatuhi bom oleh tentara sekutu. Tapi lihatlah kini, dari luluh-lantah Jepang berhasil bangkit dan bahkan menjadi salah satu pioneer yang amat disegani dalam segala aspek pergaulan internasional, dari bidang ekonomi, politik, keamanan, militer, hingga kebudayaan.
Share Buku 2
Judul : The Kaizen Power
Pengarang : Masaaki Imai
Tahukah kamu bahwa kekuatan ekonomi Jepang saat ini bersumber pada rahasia kekuatan Kaizen (The Kaizen Power) ? Ya! Kaizen merupakan satu-satunya konsep strategi yang paling penting dalam memahami rahasia manajemen orang-orang Jepang – kunci bagi keberhasilan kompetitif Jepang. Kaizen berarti “perbaikan”. Dalam buku ini, Kaizen diperluas sebagai “perbaikan terus-menerus”, termasuk perbaikan diri setiap orang – dari manajemen paling atas, seperti manajer, hingga manajemen paling bawah, seperti pekerja. Tak heran bila di Jepang, saat ini beberapa sistem telah dikembangkan untuk membuat kekuatan manajemen dan pekerja yang sadar akan potensi strategis Kaizen.
Senin, 08 November 2010
Prinsip-prinsip Dasar Manajemen
A. Definisi.
Ø Pencapaian tujuan melalui orang lain.
1. Mengarahkan sesuatu ke arah pencapaian tujuan.
2. Mengkoordinasi dan mengarahkan aktivitas-aktivitas bawahannya.
3. Pencapaian hasil bersama yang menentukan keberhasilan dari organisasi.
Rabu, 31 Maret 2010
Budaya kerja bangsa Jepang
Budaya kerja bangsa Jepang melalui azas memandang ke Timur :
• Pencatatan waktu.
• Bekerja dalam tim.
• Senam sebelum bekerja.
• Mempelajari cara kerja sebelum memulai kerja.
__
Pada tahun 1960, rata-rata jam kerja
pekerja Jepang adalah 2.450jam/tahun
__
Pada era 1980-an, Malaysia memperkenalkan
asas memandang ke Timur dengan menjadikan
Jepang sebagai contoh dan teladan
dalam keberhasilan ekonomi.
__
Sikap rajin, optimis, kreatif dan tepat waktu
merupakan ciri-ciri bangsa maju.
__
Berani mengubah sikap menjadikan bangsa Jepang
lebih maju dan lebih mampu bersaing.
Membangun Bisnis Indonesia ( Bag.2 )
Budaya Kerja Bangsa Jepang
Bangsa Jepang sanggup bekerja lembur, meskipun tidak dibayar. Itu merupakan wujud kesetiaan dan komitmen mereka pada perusahaan. Kesungguhan dan sikap kerja keras pekerja Jepang tidak dapat ditandingi oleh bangsa-bangsa lain sehingga mereka sanggup mengorbankan kepentingan pribadi dan juga waktu bersama keluarga. Meskipun pekerja Jepang bekerja lima hari seminggu, catatan jam kerja mereka paling tinggi dibandingkan pekerja Eropa Barat dan AS.
Akan tetapi, kesejahteraan ekonomi dan sosial yang pekerja Jepang dirasakan menyebabkan adanya sedikit penurunan dalam jam kerja mereka. Meskipun begitu, jumlah itu tetap yang tertinggi di dunia.
Pada tahun 1960, rata-rata jam kerja pekerja Jepang adalah 2.450 jam/tahun. Pada tahun 1992, jumlah itu menurun menjadi 2.017 jam/tahun. Namun, jumlah jam kerja itu masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata jam kerja di negara lain, misalnya Amerika (1.957 jam/tahun), Inggris (1.911 jam/tahun), Jerman (1.870 jam/tahun), dan Prancis (1.680 jam/tahun).
Perkiraan tersebut berdasarkan penggunaan jam kerja secara maksimal dan produktif. Kerajinan dan kemauan bangsa Jepang untuk bekerja melebihi jam kerja membuahkan hasil positif, yaitu membantu perkembangan dan pertumbuhan pesat ekonomi Jepang. Dalam hal itu, tidak ada yang memperkirakan bahwa Jepang dapat bangkit dan pulih kembali dalam waktu yang begitu singkat setelah mengalami masa-masa sulit pada era 1940 - 1950an.
Keberhasilan tersebut menarik perhatian dan keinginan banyak negara, termasuk Malaysia, untuk mempelajari formula keberhasilan Jepang tersebut. Pada era 1980-an, Malaysia memperkenalkan asas memandang ke Timur dengan menjadikan Jepang sebagai contoh dan teladan dalam keberhasilan ekonomi. Azas itu diperkenalkan dengan tujuan rakyat Malaysia dapat mempelaiari dan mengikuti etika kerja orang Jepang.
Budaya kerja bangsa Jepang yang diperkenalkan melalui azas ini antara lain pencatatan waktu, senam pagi sebelum bekerja, bekerja dalam tim, dan penjelasan singkat rnempelajari cara kerja sebelum memulai kerja. Kaidah dan etika kerja tersebut merupakan ciri-ciri dan budaya kerja di Jepang. Akan tetapi, budaya kerja tersebut tidak berhasil diterapkan dalam budaya kerja orang Malaysia.
Untuk menerapkan budaya kerja orang Jepang, diperlukan sikap konsisten dan komitmen tinggi. Jika tidak dilaksanakan sungguh maka akan sia-sia belaka. Sebenarnya, budaya dan kebiasaan kerja bangsa Jepang dapat diterapkan dalam suatu negara dengan cara menyesuaikannya dengan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.
Budaya kerja Jepang tidak sulit diterapkan, asalkan setiap orang mau mengubah sikap. Sikap rajin, optimis, kreatif, dan tepat waktu, merupakan ciri-ciri bangsa maju. Bangsa Jepang maju karena mereka rajin. Begitu juga dengan bangsa Cina. Mereka juga rajin seperti Jepang, meskipun tidak melebihi Jepang. Bangsa Jepang memiliki semangat kerja tinggi. Saat melakukan suatu pekerjaan, mereka selalu bersemangat. Sebenarnya, potensi tersebut dimiliki semua bangsa. Namun, tidak semua negara mampu mengelola potensi itu dengan baik. Bangsa Jepang menggunakan potensi itu dengan baik, Sehingga mereka maju. Mereka menjadikan potensi itu sebagai budaya yang di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Rahasia Bisnis Orang Jepang, oleh : Ann Wan Seng
Belajar dari : Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia
Membangun Bisnis Indonesia ( Bag.1 )
Disiplin Kerja Bangsa Jepang
Faktor keberhasilan dan kehebatan bangsa Jepang terletak pada disiplin kerja yang tinggi. Pada dasarnya, etos dan budaya kerja orang Jepang tidak jauh berbeda dengan bangsa Asia lainnya. Jika bangsa Jepang disebut pekerja keras, maka bangsa Cina, Korea, dan bangsa Asia lainnya juga pekerja keras. Namun, mengapa bangsa Jepang yang lebih berhasil dan maju dibandingkan bangsa Asia lainnya? Kejayaan tersebut memposisikan mereka sejajar dengan bangsa Barat. Jika dilihat dari segi fisik, tubuh orang Jepang lebih kecil dibandingkan bangsa Asia Iainnya. Bahkan, ukuran fisik mereka tidak sebanding dengan ukuran fisik orang Barat. Meskipun demikian, bangsa Jepang adalah bangsa yang maju.
Dari segi makanan, tidak ada perbedaan yang mencolok antara bangsa Jepang dengan bangsa lain di wilayah ini. Bangsa Jepang makan nasi. Begitu juga dengan bangsa Cina dan Melayu. Bahkan, nasi yang dimakan bangsa Cina dan Melayu lebih banyak daripada bangsa Jepang. Jika dinilai dan segi kepintaran dalam bisnis, bangsa Cina lebih hebat berbisnis dibandingkan orang Jepang. Jadi, apakah sebenarnya faktor yang menyebabkan bangsa Jepang menjadi bangsa yang hebat dan dikagumi masyarakat dunia? Apakah kelebihan dan keistimewaan bangsa Jepang? Apakah ciri khas mereka sehingga menjadi bangsa yang pintar?
Sebenarnya, keberhasilan dan kehebatan bangsa Jepang terletak pada disiplin kerja mereka yang tinggi. Disiplin itulah yang membentuk sikap dan semangat kerja keras pada bangsa Jepang. Disiplin juga menjadikan mereka patuh pada perusahaan dan mau melakukan apa pun demi keberhasilan perusahaan mereka. Orang Jepang sanggup berkorban dengan bekerja lembur tanpa mengharapkan bayaran. Bagi orang Jepang, jika hasil produksi meningkat dan perusahaan mendapat keuntungan besar, secara otomatis mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dalam pikiran dan jiwa mereka, hanya ada keinginan untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin. Mereka mencurahkan seluruh komitmen pada pekerjaan.
Disiplin dikaitkan dengan harga diri. Jika mengalami kegagalan, maka bukan organisasi dan perusahaan yang menanggung malu, melainkan para pekerja yang akan merasa malu dan kehilangan harga diri. Jadi, untuk menjaga harga diri nama, dan citra diri yang baik, mereka harus memastikan keberhasilan organisasi dan perusahaan. Oleh karena itu, tidak heran orang Jepang sanggup bekerja mati-matian untuk memajukan perusahaan dan organisasinya. Mereka senang jika disebut sebagai pekerja keras. Mereka merasa dihargai jika diberikan pekerjaan dan tugas yang berat. Sebaliknya, mereka merasa terhina dan tidak berguna jika tidak diberikan suatu pekerjaan yang menantang. Orang Jepang rela menghabiskan waktu mereka di tempat kerja daripada pulang lebih cepat ke rumah.
Keadaan ini sangat berbeda dengan budaya kerja orang Indonesia yang biasanya selalu ingin pulang lebih cepat. Sebagian dari kita menganggap pulang bekerja lebih cepat merupakan suatu cerminan status sosial yang lebih tinggi. Hal itu berbeda dengan pandangan orang Jepang. Di Jepang, orang yang pulang lebih cepat dianggap sebagai pekerja yang tidak penting dan tidak produktif. Ukuran nilai dan status orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang dihabiskannya di tempat kerja.
Hal itu berbeda dengan budaya kerja kebanyakan orang di Negara-negara lain. Biasanya, para pekerja itu hanya bersedia bekerja lembur jika diberikan bayaran dan insentif lainnya. Jika tidak, maka mereka tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Keadaan seperti itu tidak terjadi di Jepang. Di sana, setiap pekerja memberi perhatian penuh dan fokus pada pekerjaan mereka. Jika tidak diawasi pun mereka bekerja dengan baik dan tidak malas. Setiap pekerjaan dilakukan dengan penuh disiplin dan dedikasi.
Namun, bukan berarti orang Jepang tidak mempunyai masa bersantai. Mereka bersantai setelah selesai bekerja. Yang mengherankan adalah orang Jepang selalu datang ke tempat kerja tepat waktu meskipun pada malam harinya mereka bersenang-senang di tempat hiburan dan terkadang minum sampai mabuk. Mereka selalu datang tepat waktu dan bekerja seperti biasa.
Sebenarnya, sikap disiplin bangsa Jepang tidak ada bandingannya. Mereka golongan pekerja yang paling disiplin. Orang yang tidak memiliki disiplin tinggi dianggap tidak layak bekerja dengan mereka. Orang Jepang tidak bisa berkompromi dengan hal yang berkaitan dengan disiplin. Hal itu mirip dengan sebagian masyarakat Indonesia yang tidak bisa berkompromi dengan hal yang berkaitan dengan adat.
[Fakta Menarik] Manfaat disiplin :
· Membentuk sikap dan semangat bekerja yang kuat
· Menjadikan mereka patuh pada perusahaan
· Mau melakukan apa saja demi perusahaan
Orang Jepang sanggup berkorban dengan bekerja tanpa mengharapkan bayaran. Ukuran nilai dan status orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang dihabiskannya di tempat kerja.
Rahasia Bisnis Orang Jepang, oleh : Ann Wan Seng
Belajar dari : Langkah Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia
Selasa, 30 Maret 2010
Budaya Kerja Orang Jepang ( Bag.3 )
●
Etika orang Jepang : etika demi komunitas
Etika orang Jepang itu, tujuan utamanya membentuk hubungan baik di dalam
komunitas. Kebesaran komunitas bergantung pada situasi dan zaman. Negara, desa,
keluarga, perusahaan, pabrik, kantor, sekolah, partai, kelompok agama, tim
sepak bola dll, bentuknya apapun, orang Jepang mementingkan komunitas termasuk
diri sendiri. Sesudah Restorasi Meiji, pemerintah Meiji sangat menekankan
kesetiaan pada negara. Sesudah perang dunia kedua, objek kesetiaan orang Jepang
beralih pada perusahaan.
Tindakan pribadi dinilai oleh mendorong atau merusak rukun komunitas.
Maka misalnya minum minuman keras juga tidak dimasalahkan, bahkan minum bersama
diwajibkan untuk mendorong rukun komunitas.
Ajaran agama juga digunakan untuk memperkuat etika komunitas ini.
Sedangkan Semitic monoteisme (agama Yahudi, Kristen dan Islam) mengutamakan
Allah daripada komunitas, dan memisahkan seorang sebagai diri sendiri dari
komunitas. Jadi Pemerintahan Tokugawa melarang Kristen. Tentu saja agama Buddha
juga mengutamakan Kebenaran Darma daripada komunitas, tetapi ajaran sisi
seperti itu ditindas. Sementara Konfusianisme sengat cocok dengan etika demi
komunitas ini. Tetapi, orang Jepang tidak mengorbankan sendiri tanpa syarat
demi komunitas. Hal ini jelas terutama di dalam etos kerja orang Jepang.
Etos kerja seperti itulah yang membuat kepemimpinan perusahaan Jepang
yang besar membentuk 3 sistem :
1. Sistem
ketenagakerjaan sepanjang hidup, yakni perusahaan biasanya tidak putus hubungan
kerja.
2. Sistem
kenaikan gaji sejajar umur, yakni perusahaan menaikan gaji pekerjanya
tergantung umur mereka.
3. Serikat
pekerja yang diorganisasi menurut perusahaan, yakni, berbeda dengan pekerja
yang diorganisasi menurut jenis kerja, semua pekerja sebuah perusahaan, jenis
kerja apapun, diorganisasi satu serikat pekerja.
Oleh ketiga sistem ini, pekerja menganggap dirinya kuat sebagai anggota
perusahaannya dan merasa kesetiaan kepada perusahaannya. Di atas ketiga sistem
ini, etos kerja dan budaya kerja orang Jepang berkembang. Kenyataannya, ketiga
sistem ini dibentuk hanya di perusahaan besar, tidak ada di perusahaan kecil.
Tetapi ketiga sistem ini menjadi teladan bagi perusahaan kecil juga.
Ciri-ciri etos
kerja dan budaya kerja orang Jepang adalah :
1. Bekerja
untuk kesenangan, bukan untuk gaji saja. Tentu saja orang Jepang juga tidak
bekerja tanpa gaji atau dengan gaji yang rendah. Tetapi kalau gajinya lumayan,
orang Jepang bekerja untuk kesenangan. Jika ditanya “Seandainya anda menjadi
milyuner dan tidak usah bekerja, anda berhenti bekerja ?”, kebanyakan orang
Jepang menjawab, “Saya tidak berhenti, terus bekerja.” Bagi orang Jepang kerja
itu seperti permainan yang bermain bersama dengan kawan yang akrab. Biasanya di
Jepang kerja dilakukan oleh satu tim. Dia ingin berhasil dalam permainan ini,
dan ingin menaikkan kemampuan diri sendiri. Dan bagi dia kawan-kawan yang
saling mempercayai sangat penting. Karena permainan terlalu menarik, dia
kadang-kadang lupa pulang ke rumah. Fenomena ini disebut “work holic” oleh
orang asing.
2. Mendewakan
langganan. Memang melanggar ajaran Islam, etos kerja orang Jepang mendewakan
client/langganan sebagai Tuhan. “Okyaku sama ha kamisama desu.” (Langganan
adalah Tuhan.) Kata itu dikenal semua orang Jepang. Kata ini sudah motto bisnis
Jepang. Perusahaan Jepang berusaha mewujudkan permintaan dari langganan sedapat
mungkin, dan berusaha berkembangkan hubungan erat dan panjang dengan langganan.
3. Bisnis
adalah perang. Orang Jepang yang di dunia bisnis menganggap bisnis sebagai
perang yang melawan dengan perusahaan lain. Orang Jepang suka membaca buku
ajaran Sun Tzu, The Art of War untuk belajar strategis bisnis. Sun Tzu adalah
sebuah buku ilmu militer Tiongkok kuno, pada abad 4 sebelum masehi. Sun Tzu itu
suka dibaca oleh baik samurai dulu maupun orang bisnis sekarang. Untuk menang
perang, perlu strategis dan pandangan jangka panjang. Budaya bisnis Jepang
lebih mementingkan keuntungan jangka panjang. Supaya menang perang seharusnya
diadakan persiapan lengkap untuk bertempur setenaga kuat. Semua orang Jepang
tahu pribahasa “Hara ga hette ha ikusa ha dekinu.” (Kalau lapar tidak bisa
bertempur.) Oleh karena itu orang Jepang tidak akan pernah menerima kebiasaan
puasa. Bagi orang Jepang, untuk bekerja harus makan dan mempersiapkan kondisi
lengkap. Tentu saja di medang perang,
4. kedisiplinan
paling penting. Dalam buku Sun Tzu untuk mengajar kedisiplinan dilakukan cara
yang sangat kejam. Tetapi sekarang disiplin diajarkan di sekolah dasar.
Pendidikan di sekolah sangat penting. Masuk sekolah setiap hari tidak
terlambat, ikut pelajaran secara rajin, hal-hal itu dasar disiplin untuk kerja
di dunia bisinis. Pada setelah Restorasi Meiji, pendidikan disiplin di sekolah
dasar lebih berguna untuk berkembang kapitalisme daripada ajaran agama apapun.
Rahasia Bisnis Orang Jepang, oleh : Ann Wan
Seng
Belajar dari : Langkah
Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia
Budaya Kerja Orang Jepang ( Bag.2 )
Untuk itu, tidak ada alasan bagi Indonesia tidak bisa menjadi seperti
Jepang. Indonesia memiliki sumber alam melimpah dari pada Jepang, tenaga
manusia murah, infrastruktur yang baik, dan kedudukan geografis yang strategis.
Tergantung kemauan, komitmen dan langkah pasti pemerintah serta masyarakatnya
dalam mengaplikasikan formula ekonomi yang ampuh tersebut. Jika bangsa Jepang
bisa melakukannya, maka tidak ada alasan untuk kita gagal melaksanakannya.
Kekuasaan ada ditangan kita dan bukan terletak pada negara.
Namun sebelumnya, ada beberapa etos kerja dan budaya kerja bangsa Jepang
yang bisa kita ketahui :
●
Masyarakat Jepang tidak peduli pada agama.
Jika dibandingkan dengan masyarakat Indonesia, perbedaan yang paling
besar antara masyarakat Jepang dengan Indonesia adalah masyarakat Jepang tidak
peduli pada agama.
Dalam undang-undang dasar Jepang, pemerintah tidak boleh ikut campur
dalam urusan agama. Dilarang keras memakai anggaran negara untuk hal-hal agama.
Dalam pasal 20 tertulis bahwa semua lembaga agama tidak boleh diberi hak
istimewa dari negara dan tidak boleh melaksanakan kekuatan politik, negara dan
instansinya tidak boleh melakukan kegiatan agama dan pendidikan agama tertentu.
Dan dalam pasal 89 tertulis bahwa uang negara tidak boleh dipakai untuk lembaga
agama.
Maka di Jepang tidak ada ruangan untuk sembahyang seperti mushala di
instansi negara (termasuk sekolah), tidak ada Departmen Agama, tidak ada
sekolah agama negara (seperti IAIN di Indonesia).
Menurut beberapa penelitian, sekitar 70% orang Jepang menjawab tidak
memeluk agama. Terutama, pemuda Jepang sangat tidak peduli agama. Pada tahun
1996, mahasiswa Jepang yang mempercayai agama tertentu hanya 7.6%. Orang Jepang
tidak peduli orang lain agamanya apa, dan kalau dia mempercayai agama tertentu,
biasanya dia tidak suka memamerkan agamanya sendiri. Orang Jepang tidak ikut
campur urusan pribadi orang lain, dan masalah agama dianggap sebagai urusan
pribadi.
Di Jepang pernah ada Perdana Menteri yang memeluk agama Kristen, namanya
Ohira Masayoshi. Masa jabatannya dari tahun 1978 sampai 1980. Memang jumlah
orang Kristen cuma 1% dari penduduk Jepang, tapi sama sekali tidak menjadi
masalah dan sama sekali tidak mempengaruhi kebijakannya. Hal itu tidak
dikatakan karena toleransi pada agama, lebih tepat disebut karena
ketidakpedulian orang Jepang pada agama.
●
Etika orang Jepang tidak berdasar atas agama
Robert N Bellah, menerbitkan buku berjudul Tokugawa Religion: The
Cultural Roots of Modern Japan (1957) menganalisis kemajuan Jepang berdasar
teori Max Weber yaitu Die Protestantische Ethik und der “Geist” des
Kapitalismus (1905), menjelaskan peranan nilai agama pramodern itu dalam proses
modernisasi. Bellah mengatakan ajaran “Sekimon shingaku” (Ilmu moral oleh
ISHIDA Baigan) itu memerankan sebagai etos untuk modernisasi ekonomi. Selain
itu, ada yang menilai ajaran salah satu sekte Buddha Jepang Jodo Shinshu
sebagai etos seperti Protestan. Tentu saja ajaran-ajaran itu mementingkan kerja
keras, mirip dengan ajaran Puritanisme (memang Islam juga). Di Jepang
modernisasi di dalam bidang ekonomi dilakukan oleh pemerintah Meiji. Ideologi
pemerintah Jepang adalah Shinto versi negara. Jadi, teori Max Weber tidak bisa
diterapkan kepada Jepang. Di Jepang tidak ada agama yang mendorong proses
kapitalisme.
Jepang dipenuhi dengan porno, dilimpah dengan tempat judi, orang Jepang
suka sekali minum minuman keras. Tetapi pada umumnya orang Jepang masih
berdisiplin, bekerja keras, masyarakat Jepang sedikit korupsi, lebih makmur,
tertib, efisien, bersih dan aman (setidak-tidaknya tidak terjadi konflik antar
agama) daripada Indonesia. Bagi orang Jepang, porno, judi, minuman keras, semua
hanya sarana hiburan saja untuk menghilangkan stres. Kebanyakan orang Jepang
tidak sampai adiksi/kecanduan.
Kalau begitu, etika orang Jepang berdasar atas segala sesuatu yang
dianggap menguntungkan. Semua hal pasti di kerjakan, biarpun itu berbau porno
asalkan senang dan mendatangkan keuntungan
Budaya Kerja Orang Jepang ( Bag.1 )
Dari segi pemerintahan, sebelum terjadi perang negara Jepang telah
memiliki partai-partai politik yang mencerminkan kepemimpinan demokratis yang
dianutnya. Tapi ciri-ciri dan sifat-sifat kepemimpinan politik Jepang sesudah
perang sangat sulit untuk dinilai. Tradisi maupun praktek kehidupan Jepang
sedikit sekali menekankan pada “pemimpin-pemimpin” secara individual dan
“kepemimpinan” dibanding dengan kultur Barat. Kecenderungan ini diperkuat oleh
sifat multi-faksi dari kepemimpinan partai politiknya, dan besarnya peranan
komite dan teknik-teknik, konsensus lainnya dalam pembuatan keputusan.
Suatu penelitian tentang penunjukan dari pembentukan kabinet-kabinet
konservatif akhir-akhir ini akan menunjukkan pengaruh perang, kekalahan perang,
dan pendudukan Amerika terhadap sifat kepemimpinan politik Jepang sesudah
Perang Dunia II. Tokoh-tokoh militer dan wakil-wakil dari lingkungan istana dan
aristokrat yang begitu kuat berpengaruh dalam kabinet sebelum perang sekarang
tidak muncul lagi. Di antara kelompok elite sebelum perang, hanya politisi
partai, birokrat, dan wakil-wakil dunia usaha yang masih tetap memegang posisi.
Beban kekalahan perang, pembersihan yang didorong oleh Amerika atas unsur-unsur
militer dan ultra-nasionalis dari jabatan-jabatan pemerintahan, dan
diberlakukannya Konstitusi baru secara serempak telah menyingkirkan
pemimpin-pemimpin tradisional dari jabatannya; akibat kekosongan kepemimpinan
itu muncullah muka-muka baru di kalangan puncak partai-partai konservatif, yang
sebagian besar masih tetap berada di tempatnya sampai sekarang.
Sedangkan bila dilihat dari segi kebudayaannya, kepemimpinan Jepang
dikenal memiliki etos kerja yang sangat baik dalam memajukan negara atau
organisasi yang berada di dalamnya. Diambil dari sumber yang ditulis oleh Ahmad
Kurnia dari buku karya ANN WAN SENG, “RAHASIA BISNIS ORANG JEPANG (Langkah
Raksasa Sang Nippon Menguasai Dunia)” diceritakan setelah bom atom Amerika
menghunjam Hiroshima dan Nagasaki yang merupakan jantung kota Jepang tahun 1945,
semua pakar ekonomi saat itu memastikan Jepang akan segera mengalami
kebangkrutan. Namun, dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, Jepang ternyata
mampu bangkit dan bahkan menyaingi perekonomian negara yang menyerangnya.
Terbukti, pendapatan tahunan negara Jepang bersaing ketat di belakang Amerika
Serikat. Apalagi di bidang perteknologian, Jepang menjelma menjadi raksasa di
atas negara-negara besar dan berkuasa lainnya. Dengan segala kekurangan secara
fisik, tidak fasih berbahasa Inggris, kekurangan sumber tenaga kerja, dan
selalu terancam bencana alam rupanya tidak menghalangi mereka menjadi bangsa
yang dihormati dunia.
Dahulu Jepang bukanlah negara maju yang patut diperhitungkan dan ditakuti
di dunia. Tapi siapa yang menyangka bahwa setelah mengalami kehancuran yang
dahsyat pada Perang Dunia II dengan dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima
dan Nagasaki, Jepang mampu bertahan dan bahkan bangkit dengan kekuatan yang
sangat luar biasa menjadi suatu negara maju di kawasan Asia Timur, dan mampu
menempatkan negara dalam posisinya dalam jajaran negara-negara dengan
perekonomian terkuat di dunia. Hal ini dibuktikan pada pertengahan era 1990-an,
Product National Bruto (PNB) Jepang mencapai US$ 37,5 miliar atau 337,5 triliun
rupiah, yang sekaligus menempatkan Jepang pada posisi ke-2 setelah Swiss yang
memiliki PNB tertinggi di dunia. Selain itu Jepang merupakan negara yang tidak
memiliki utang luar negeri. Jepang dikenal sebagai negara yang mempunyai banyak
kekurangan antara lain dari segi fisik orang Jepang rata-rata berpostur kecil,
wilayah teritorial yang sempit, dari segi tata letak geografis negara Jepang
terletak di jalur lempeng pergeseran kerak bumi yang berpotensi rawan gempa
bumi, sumber daya alam yang terbatas, dan masih banyak kekurangan yang lain. Tapi
mengapa negara dengan banyak kekurangan ini mampu bertahan dan bangkit menjadi
negara maju didunia? Apa keajaiban yang terjadi?
Jepang adalah negara yang tidak memiliki hasil dan sumber daya alamnya
sendiri. Oleh karena itu, Jepang bergantung pada sumber-sumber dari negara
lain. Negara tersebut tidak hanya mengimpor minyak bumi, biji besi, batu arang,
kayu, dan sebagainya. Bahkan, hampir delapan puluh lima persen sumber tenaganya
berasal dari negara lain. Hasil pertanian Jepang adalah yang tertinggi di dunia.
Selain itu, Jepang juga mengimpor tiga puluh persen bahan makanan dari negara
lain untuk memenuhi konsumsi makanan penduduknya. Namun, di Jepang pertanian
masih menjadi sektor utama meskipun telah dikenal sebagai negara industri yang
maju. Dengan kondisi tersebut bagaimana atau apa yang menjadi rahasia sehingga
Jepang bisa menjadi penguasa ekonomi nomor satu didunia?
Mengapa negara Korea Selatan, Hongkong, Taiwan, Singapura, dan Indonesia
tidak dapat menjadi seperti Jepang? Apakah karakter bangsa Jepang tidak
dimiliki bangsa lain? Padahal, berdasarkan ciri fisik dan keadaan geografis,
setengah negara tersebut yang lebih baik daripada Jepang. Beberapa penelitian
telah dilakukan untuk menjelaskan hal tersebut. Objek penelian adalah pada
sistem penggajian, etos dan budaya kerja orang Jepang. Pada dasarnya, etos dan
budaya kerja orang Jepang tidak jauh beda dengan bangsa Asia lainnya. Jika
mereka disebut pekerja keras, maka bangsa Cina, Korea dan bangsa Asia lainnya
juga pekerja keras. Namun, mengapa bangsa Jepang yang lebih berhasil dan maju
dibandingkan dengan bangsa Asia lainnya?
Dalam sistem pengelolaan organisasi bisa dibilang organisasi Jepang
berbeda dengan sistem pengelolaan organisasi yang dianut oleh bangsa maju
lainnya seperti Amerika. Perbedaan inilah yang membuat organisasi Jepang
menjadi unik tapi banyak dicontoh oleh negara-negara berkembang di dunia. Dalam
organisasi Jepang pengelola berawal dari posisi bawahan, oleh karena itu
pengelola organisasi Jepang lebih akrab dan memahami bawahannya. Sikap terus
terang mengurangi konflik antara pihak pengelola dan bawahan. Tim kerja
merupakan pondasi dasar dalam organisasi Jepang untuk membentuk interaksi
antara anggota tim dan bawahan. Fakta-fakta menarik yang yang dapat kita amati
dari sistem pengelolaan organisasi Jepang antara lain: bangsa Jepang lebih suka
mengaitkan diri mereka sebagai anggota organisasi dan perkumpulan tertentu jika
memperkenalkan diri daripada memperkenalkan diri berdasarkan asal negara dan
keturunannya. Mereka bangga jika dikaitkan dengan organisasi besar dan
berprestasi, tempat mereka bekerja. Kemauan bangsa Jepang menjadi hamba
organisasinya merupakan faktor kesuksesan negara itu menjadi penguasa besar
dalam bidang ekonomi dan industri. Sikap ini ditunjukkan dengan cara mengorbankan
pendapat pribadi, masa istirahat, gaji dan sebagainya untuk menjaga dan
mempertahankan kelangsungan organisasinya. Sikap ini berbeda dengan bangsa
barat yang memberikan ruang sebesar-besarnya kepada anggota organisasi untuk
berpendapat dn mengemukakan pandangan. Dalam sistem pengelolaan Jepang ini
individu tidak penting jika dibandingkan dengan perkumpulan dan organisasi.
Orang Jepang sanggup berkorban dengan bekerja lembur tanpa mengharap
bayaran. Mereka merasa lebih dihargai jika diberikan tugas pekerjaan yang berat
dan menantang. Bagi mereka, jika hasil produksi meningkat dan perusahaan
mendapat keuntungan besar, secara otomatis mereka akan mendapatkan balasan yang
setimpal. Dalam pikiran dan jiwa mereka, hanya ada keinginan untuk melakukan
pekerjaan sebaik mungkin dan mencurahkan seluruh komitmen pada pekerjaan. Pada
tahun 1960, rata-rata jam kerja pekerja Jepang adalah 2.450 jam/tahun. Pada
tahun 1992 jumlah itu menurun menjadi 2.017 jam/tahun. Namun, jam kerja itu
masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata jam kerja di negara lain,
misalnya Amerika (1.957 jam/tahun), Inggris (1.911 jam/tahun), Jerman (1.870
jam/tahun), dan Prancis (1.680 jam/tahun). Ukuran nilai dan status orang Jepang
didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang dihabiskannya di tempat
kerja (hlm.70). Keadaan ini tentu sangat berbeda dengan budaya kerja orang
Indonesia yang biasanya selalu ingin pulang lebih cepat. Di Jepang, orang yang
pulang kerja lebih cepat selalu diberi berbagai stigma negatif, dianggap sebagai
pekerja yang tidak penting, malas dan tidak produktif. Bahkan istri-istri orang
Jepang lebih bangga bila suami mereka ”gila kerja” bukan ”kerja gila”. Sebab
hal itu juga menjadi pertanda suatu status sosial yang tinggi.
Keberhasilan Jepang mempertahankan statusnya sebagai “Bapak Naga Asia”
banyak dibantu oleh budaya kerja dan perdagangan rakyatnya. Agar produk mereka
mampu bersaing di dunia Internasional, Jepang tidak hanya memperbaiki dan
meningkatkan kualitas produknya, melainkan juga menciptakan berbagai barang
lain yang diperlukan konsumen baik ditingkat mikro maupun makro. Sehingga
perusahaan Jepang bersedia menghabiskan jutaan rupiah (sekitar 45 persen dari
anggaran belanjanya) untuk membiayai penelitian dan pengembangan dalam rangka
meningkatkan inovasi dan mutu produk. Selain itu mereka juga meletakkan
kepercayaan dan jaminan kualitas sebagai aset terpenting pemasaran dan
perdagangan. Tidak salah beberapa produknya menduduki posisi pertama dan
menjadi pilihan konsumen karena lebih ekonomis, bermutu, mudah digunakan dan
memiliki berbagai fungsi. Seperti Matsushita yang merupakan contoh terbaik
perusahaan yang berhasil memecahkan dominasi dan monopoli perusahaan Barat.
Begitu juga Walkman produk Sony yang menimbulkan fenomena luar biasa dikalangan
remaja pada era 1980-an. Produk itu juga mencetuskan revolusi baru dalam
perkembangan elektronik dan audio visual.
Sikap patriotisme bangsa Jepang juga menjadi salah satu faktor yang
membantu keberhasilan ekonomi negaranya. Bangsa Jepang bangga dengan produk buatan
negeri sendiri. Mereka juga menjadi pengguna utama produk lokal dan pada saat
yang sama juga mencoba mempromosikan produk made in Japan ke seluruh dunia dari
makanan, teknologi sampai tradisi dan budaya. Dimana saja mereka berada bangsa
Jepang selalu mempertahankan identitas dan jatidiri mereka.
Minat dan kecintaan bangsa Jepang terhadap ilmu membuat mereka
merendahkan diri untuk belajar dan memanfaatkan apa yang telah mereka pelajari.
Mereka menggunakan ilmu yang diperoleh untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan
produk Barat demi memenuhi kepentingan pasar dan konsumen. Bangsa Jepang memang
pintar meniru tetapi mereka memiliki daya inovasi yang tinggi. Pihak Barat
memakai proses logika, rasional dan kajian empiris untuk menghasilkan sebuah
inovasi. Namun bangsa Jepang melibatkan aspek emosi dan intuisi untuk
menghasilkan inovasi yang sesuai dengan selera pasar.
Untuk melancarkan urusan pekerjaanya, orang Jepang memegang teguh prinsip
tepat waktu dengan tertib dan disiplin, khususnya dalam sektor perindustrian
dan perdagangan. Kedua elemen itu menjadi dasar kemakmuran ekonomi yang dicapai
Jepang sampai saat ini. Seperti pahlawan dalam cerita rakyat Jepang, si samurai
buta Zatoichi, Jepang harus memastikan segala-galanya, termasuk rakyatnya,
senantiasa bergerak cepat menghadapi perubahan disekelilingnya. Jika semuanya
berhenti bergerak, maka ekonomi Jepang akan runtuh seperti Zatoichi yang luka
dan mati karena gagal mempertahankan diri dari serangan musuh. Karena ia tidak
bergerak dan hanya dalam keadaan statis.
Ethos Kerja Bangsa Jepang
Malaysia memperkenalkan asas
memandang ke Timur pada awal era 1980-an dengan menjadikan Jepang sebagai
contoh. Bangsa Jepang dikenal sebagai bangsa terproduktif di dunia. Mereka juga
berhasil membangun negaranya dari sisa-sisa keruntuhan dan kehancuran. Mereka
terkenal dengan sikap rajin dan pekerja keras. Jadi, tidak heran jika pekerja
Jepang mampu bekerja dalam waktu yang panjang tanpa mengenal lelah, bosan, dan
putus asa. Mereka bukan hanya mampu bekerja dalam jangka waktu yang lama,
melainkan juga mampu mencurahkan perhatian, jiwa, dan komitmen pada pekerjaan
yang dilakukannya. Karakter dan budaya kerja keras merupakan faktor penting
keberhasilan bangsa Jepang dalam bidang ekonomi, industri, dan perdagangan.
Bangsa Jepang tidak menganggap
tempat kerja hanya sekadar tempat mencari makan, tetapi juga menganggapnya
sebagai bagian dari keluarga dan kehidupannya. Kesetiaan mereka pada perusahaan
melebihi kesetiaannya pada keluarga sendiri. Mereka selalu berusaha memberikan
kinerja terbaik pada perusahaan, pabrik, atau tempat mereka bekerja. Budaya
kerja seperti itu tidak lahir dan terwujud dengan begitu saja. Budaya itu
dipupuk dan dilatih selama berabad-abad, sehingga akhirnya mengakar dalam
pemikiran dan jiwa mereka. Di Jepang, setiap pekerja mengetahui tugas dan
perannya di tempat kerja. Mereka tidak bekerja sebagai individu, tetapi dalam
satu pasukan, sehingga tidak ada jurang yang tercipta di antara mereka. Mereka
tidak bersaing, tetapi bekerja sama untuk menyelesaikan suatu tugas. Di Jepang,
semua pekerja tidak memandang pangkat dan berada pada kedudukan yang sama.
Jabatan tinggi atau rendah tidak
penting dalam etika dan pengelolaan kerja bangsa Jepang. Di tempat kerja, meja
pegawai dan atasan diletakkan dalam suatu ruang terbuka tanpa pemisah. Tidak
ada dinding pemisah seperti kebanyakan ruang kantor di Indonesia.
Pengelola tidak dipisahkan dari
bawahan mereka. Tidak ada ruangan khusus untuk golongan pengelola. Tempat duduk
dan meja di susun dan diletakkan berdekatan dengan pengelola bagiannya agar
memudahkan bawahannya menghubungi mereka. Dengan
demikian, mereka dapat berinteraksi, berkomunikasi, dan bertukar pendapat kapan
saja.
Susunan ruangan
kantor seperti itu bukan agar atasan mengawasi bawahannya. Melainkan lebih
berfungsi sebagai tempat dan saluran untuk berbincang dan bertukar pandangan.
Walau begitu, duduk dalam keadaan rapat tidak digunakan untuk membicarakan hal
yang tidak berguna. Mereka hanya berbicara dan bercanda setelah jam kerja.
Cara yang
digunakan bangsa Jepang adalah salah satu cara membentuk dan menjalin hubungan
erat antar pekerja. Semua pekerja mempunyai tugas dan tanggung jawab penting,
sehingga mereka tidak merasa asing. Selain itu, antar sesama, mereka
memiliki ikatan emosi yang kuat. Begitu juga dengan rasa sentimen dan
keterikatan mendalam terhadap perusahaan, pabrik, dan tempat kerja mereka.
·
Karakter dan budaya kerja keras
merupakan faktor penting keberhasilan bangsa Jepang dalam bidang ekonomi,
industri dan perdagangan.
·
Jabatan tinggi atau rendah tidak
penting dalam etika serta pengelolaan kerja bangsa Jepang.
·
Orang
Jepang mau kerja lembur meskipun tidak dibayar.
Rahasia Bisnis Orang Jepang, oleh : Ann Wan
Seng
Belajar dari : Langkah
Raksasa Sang Nippon Mengusai Dunia
Belajar Sukses dari Jepang
Penulis: Ali Imron Djaya
Sekretaris Eksekutif
Pesantren Institute Malang
Judul Buku :
RAHASIA BISNIS ORANG JEPANG (Langkah Raksasa Sang Nippon Menguasai Dunia)
Penulis : ANN WAN SENG
Penerbit : Hikmah ( PT Mizan Publika) Jakarta
Cetakan : I, April 2007
Tebal : 301 halaman
Siapa pun pasti
tidak menduga sebuah bangsa yang tidak berfisik besar dapat mengalahkan bangsa
Barat yang dikenal lebih maju dan beradab. Setelah bom atom Amerika menghujam
jantung kota Jepang tahun 1945, semua pakar ekonomi saat itu memastikan Jepang
akan segera mengalami kebangkrutan. Namun, dalam kurun waktu kurang dari 20
tahun, Jepang ternyata mampu bangkit dan bahkan menyaingi perekonomian negara
yang menyerangnya. Terbukti, pendapatan per kapita dan taraf hidup rakyatnya
yang menempati posisi kedua tertinggi di dunia. Pada pertengahan era 1990-an
saja, Produk Nasional Bruto (PNB) Jepang mencapai US$ 37,5 miliar. Angka
tersebut sekaligus menempatkan posisi Jepang di belakang Swiss yang memiliki
PNB tertinggi di dunia yang berjumlah US$ 113,7 miliar. Selain itu Jepang juga
tidak memiliki utang luar negeri.
Menurut mereka,
kekalahan dapat ditebus dengan kemenangan dan keberhasilan dalam bidang lain.
Bangsa Jepang tidak pernah menyerah dengan segala kekurangan dan kelemahan pada
diri mereka. Meskipun sumber alamnya minimal, terancam gempa bumi dan angin
topan, namun mereka menggunakan segala potensi yang ada untuk membangun negara
agar sebanding dengan negara yang kaya dengan sumber alam. Mereka pintar
menempatkan dan memanipulasi segala sumber yang ada sebaik mungkin. Bangsa
Jepang cepat dan tanggap bertindak dan tidak menunggu peluang datang, tetapi
mencari dan menciptakan sendiri peluang tersebut.
Kemampuan Jepang
bangkit dari kerusakan akibat perang dan kehancuran perekonomian dianggap
sebagai sebuah keajaiban. Meski demikian, keberhasilan yang dirasakan Jepang
tidak dicapai dalam waktu singkat. Sebenarnya, tidak ada satu keajaiban pun
yang membantu perkembangan dan kemajuan perekonomian Jepang. Semua diperoleh
dari hasil kesungguhan, disiplin ketat, usaha dan semangat kerja keras (spirit
Bushido) rakyatnya yang diwarisi secara turun-temurun. Disiplin bangsa Jepang
dikaitkan dengan harga diri (disiplin Samurai). Jika mengalami kegagalan, maka
bukan organisasi dan perusahaan yang menanggung malu, namun para pekerja yang
merasa malu dan kehilangan harga diri.
Pada dasarnya,
etos dan budaya kerja orang Jepang tidak jauh beda dengan bangsa Asia lainnya.
Jika mereka disebut pekerja keras, maka bangsa Cina, Korea dan bangsa Asia
lainnya juga pekerja keras. Namun, mengapa bangsa Jepang yang lebih berhasil
dan maju dibandingkan dengan bangsa Asia lainnya?
Orang Jepang
sanggup berkorban dengan bekerja lembur tanpa mengharap bayaran. Mereka merasa
lebih dihargai jika diberikan tugas pekerjaan yang berat dan menantang. Bagi
mereka, jika hasil produksi meningkat dan perusahaan mendapat keuntungan besar,
secara otomatis mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dalam pikiran
dan jiwa mereka, hanya ada keinginan untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin
dan mencurahkan seluruh komitmen pada pekerjaan. Pada tahun 1960, rata-rata jam
kerja pekerja Jepang adalah 2.450 jam/tahun. Pada tahun 1992 jumlah itu menurun
menjadi 2.017 jam/tahun. Namun, jam kerja itu masih lebih tinggi dibandingkan
dengan rata-rata jam kerja di negara lain, misalnya Amerika (1.957 jam/tahun),
Inggris (1.911 jam/tahun), Jerman (1.870 jam/tahun), dan Prancis (1.680
jam/tahun). Ukuran nilai dan status orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja
dan jumlah waktu yang dihabiskannya di tempat kerja (hlm.70). Keadaan ini tentu
sangat berbeda dengan budaya kerja orang Indonesia yang biasanya selalu ingin
pulang lebih cepat. Di Jepang, orang yang pulang kerja lebih cepat selalu
diberi berbagai stigma negatif, dianggap sebagai pekerja yang tidak penting,
malas dan tidak produktif. Bahkan istri-istri orang Jepang lebih bangga bila
suami mereka ”gila kerja” bukan ”kerja gila”. Sebab hal itu juga menjadi
pertanda suatu status sosial yang tinggi.
Keberhasilan
Jepang mempertahankan statusnya sebagai “Bapak Naga Asia” banyak dibantu oleh
budaya kerja dan perdagangan rakyatnya. Agar produk mereka mampu bersaing di
dunia Internasional, Jepang tidak hanya memperbaiki dan meningkatkan kualitas
produknya, melainkan juga menciptakan berbagai barang lain yang diperlukan
konsumen baik ditingkat mikro maupun makro. Sehingga perusahaan Jepang bersedia
menghabiskan jutaan rupiah (sekitar 45 persen dari anggaran belanjanya) untuk
membiayai penelitian dan pengembangan dalam rangka meningkatkan inovasi dan
mutu produk. Selain itu mereka juga meletakkan kepercayaan dan jaminan kualitas
sebagai aset terpenting pemasaran dan perdagangan (hlm.152). Tidak salah
beberapa produknya menduduki posisi pertama dan menjadi pilihan konsumen karena
lebih ekonomis, bermutu, mudah digunakan dan memiliki berbagai fungsi. Seperti
Matsushita yang merupakan contoh terbaik perusahaan yang berhasil memecahkan
dominasi dan monopoli perusahaan Barat. Begitu juga Walkman produk Sony yang
menimbulkan fenomena luar biasa dikalangan remaja pada era 1980-an. Produk itu
juga mencetuskan revolusi baru dalam perkembangan elektronik dan Audio visual.
Sikap patriotisme
bangsa Jepang juga menjadi salah satu faktor yang membantu keberhasilan ekonomi
negaranya. Bangsa Jepang bangga dengan produk buatan negeri sendiri. Mereka
juga menjadi pengguna utama produk lokal dan pada saat yang sama juga mencoba
mempromosikan produk made in Japan ke seluruh dunia dari makanan, teknologi
sampai tradisi dan budaya. Dimana saja mereka berada bangsa Jepang selalu
mempertahankan identitas dan jatidiri mereka.
Minat dan kecintaan
bangsa Jepang terhadap ilmu membuat mereka merendahkan diri untuk belajar dan
memanfaatkan apa yang telah mereka pelajari. Mereka menggunakan ilmu yang
diperoleh untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan produk Barat demi memenuhi
kepentingan pasar dan konsumen. Bangsa Jepang memang pintar meniru tetapi
mereka memiliki daya inovasi yang tinggi. Pihak Barat memakai proses logika,
rasional dan kajian empiris untuk menghasilkan sebuah inovasi. Namun bangsa
Jepang melibatkan aspek emosi dan intuisi untuk menghasilkan inovasi yang
sesuai dengan selera pasar.
Untuk melancarkan
urusan pekerjaanya, orang Jepang memegang teguh prinsip tepat waktu dengan
tertib dan disiplin, khususnya dalam sektor perindustrian dan perdagangan.
Kedua elemen itu menjadi dasar kemakmuran ekonomi yang dicapai Jepang sampai
saat ini. Seperti pahlawan dalam cerita rakyat Jepang, si samurai buta
Zatoichi, Jepang harus memastikan segala-galanya, termasuk rakyatnya,
senantiasa bergerak cepat menghadapi perubahan disekelilingnya. Jika semuanya
berhenti bergerak, maka ekonomi Jepang akan runtuh seperti Zatoichi yang luka
dan mati karena gagal mempertahankan diri dari serangan musuh. Karena ia tidak
bergerak dan hanya dalam keadaan statis (hlm.292).
Untuk itu, tidak
ada alasan bagi Indonesia tidak bisa menjadi seperti Jepang. Indonesia memiliki
sumber alam melimpah dari pada Jepang, tenaga manusia murah, infrastruktur yang
baik, dan kedudukan geografis yang strategis. Tergantung kemauan, komitmen dan
langkah pasti pemerintah serta masyarakatnya dalam mengaplikasikan formula
ekonomi yang ampuh tersebut. Jika bangsa Jepang bisa melakukannya, maka tidak
ada alasan untuk kita gagal melaksanakannya. Kekuasaan ada ditangan kita dan
bukan terletak pada negara.
Buku terbitan
Malaysia karya Ann Wan Seng berjudul asli ”Rahsia Bisnes Orang Jepun (2006)”,
yang telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia ini, menyingkap gaya hidup
dan kerja, semangat kerja, dan prinsip orang Jepang yang membuahkan hasil
mengagumkan di bidang perekonomian. Buku ini tidak hanya memberikan pembaca
teknik dan rahasia bisnis orang Jepang, tetapi amat bermanfaat, mencerahkan,
dan inspiratif khususnya bagi para pelaku bisnis, pejabat pemerintah serta
masyarakat umum agar mau berubah dan bekerja keras dalam membangun perekonomian
Indonesia menjadi lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)
